Pakai Alasan Perang, Zelensky Tolak Ukraina Gelar Pemilu

CNN Indonesia
Minggu, 23 Agu 2026 17:35 WIB
Pakai Alasan Perang, Zelensky Tolak Ukraina Gelar Pemilu
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky. (AFP/Sergei Gapon)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara tegas menolak gagasan penyelenggaraan pemilu di tengah berkecamuknya perang melawan Rusia. Sikap ini disampaikan hanya empat hari setelah mantan menteri pertahanannya secara terbuka mendesak agar pemilu tetap digelar.

"Saya percaya bahwa dalam situasi perang seperti ini, penyelenggaraan pemilu adalah risiko yang sangat besar. Pemilu saat ini bagaikan tsunami bagi negara yang dapat memecah belah Ukraina," tegas Zelensky dalam peryataan resminya pada Minggu (23/8), seperti dilansir CBS News.

Pernyataan tersebut menanggapi unggahan video mantan Menteri Pertahanan Ukraina Mykhailo Fedorov, yang dicopot dari jabatannya bulan lalu, pada Selasa (18/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam video tersebut, Fedorov mendesak agar rakyat Ukraina diberikan kesempatan untuk menggunakan hak pilih mereka di TPS (Tempat Pemungutan Suara).

"Demokrasi tidak boleh disandera oleh Rusia. Harus ada mekanisme yang sah, aman, dan realistis yang memungkinkan Ukraina memulihkan proses demokrasi secara penuh, bahkan di tengah perang yang berkepanjangan," ujar Fedorov.

"Kita bertempur justru karena kita ingin tetap menjadi negara Eropa yang merdeka," tambahnya.

Langkah Fedorov dipandang luas sebagai tantangan politik terbesar terhadap kekuasaan Zelensky sejak konflik pecah. Kendati demikian, mantan menteri tersebut tidak membeberkan apakah ia memiliki ambisi politik pribadi.

Zelensky sendiri telah memberlakukan undang-undang darurat militer sejak pasukan Rusia melancarkan invasi pada Februari 2022, yang secara hukum melarang penyelenggaraan pemilu selama masa darurat.

Dalam wawancara bersama BBC, Fedorov menyebut Presiden Ukraina memiliki "pertanyaan yang harus dijawab" terkait dugaan kasus korupsi di lingkaran pemerintahannya, merujuk pada penyelidikan tindak pidana pencucian uang yang diumumkan pekan lalu.

Fedorov menegaskan rakyat Ukraina tidak boleh takut untuk mendiskusikan gagasan pemilu di masa perang.

"Jika saya tidak dapat membagikan gagasan saya dan terbuka kepada masyarakat saya sendiri, lantas untuk apa kita bertempur?" cetus Fedorov.

Zelensky memecat Fedorov pada pertengahan Juli lalu lantaran perselisihan sengit yang tak kunjung usai antara Fedorov dengan Panglima Tinggi Ukraina, Jenderal Oleksandr Syrskyi. Keputusan pemecatan tersebut sempat memicu gelombang aksi protes dari ribuan warga di berbagai kota yang mengkritik pencopotan sosok menteri populer tersebut.

Selama menjabat, Fedorov diakui berhasil mengubah peta pertempuran menguntungkan Ukraina. Ia sukses meningkatkan intensitas serangan jarak jauh ke wilayah dalam Rusia hingga sepuluh kali lipat serta memperkuat persenjataan domestik Ukraina.

(wiw)
placeholder