Taipan China Pendiri Evergrande Group Divonis Penjara Seumur Hidup

CNN Indonesia
Kamis, 20 Agu 2026 21:27 WIB
The Evergrande headquarters is seen in Shenzhen, southeastern China on September 14, 2021, as the Chinese property giant said it is facing
Foto: AFP/NOEL CELIS
Jakarta, CNN Indonesia --

Pendiri raksasa properti China Evergrande Group, Hui Ka Yan, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan China, Kamis (20/8).

Keputusan ini dijatuhkan lima tahun setelah kolapsnya raksasa properti tersebut hingga mengguncang perekonomian dan pasar keuangan China.

Hui, yang sempat dinobatkan sebagai orang terkaya di Asia, mengaku bersalah pada April 2026 lalu atas delapan dakwaan berat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dakwaan tersebut mencakup penyalahgunaan dana, penipuan penggalangan dana, penghimpunan dana publik secara ilegal, penyaluran pinjaman ilegal, penerbitan sekuritas bodong, hingga penyuapan.

Dalam persidangan, pengadilan juga memutuskan untuk menyita seluruh aset pribadi Taipan China berusia 67 tahun tersebut.

"Tindakan kriminal Evergrande Group, Hengda Real Estate, dan Hui Ka Yan melibatkan jumlah dana yang sangat besar menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat signifikan dan dampak sosial yang serius. Sehingga harus dihukum berat," tegas hakim di pengadilan dikutip Reuters.

Selain vonis penjara seumur hidup untuk Hui, pengadilan menjatuhkan denda sebesar 8,82 miliar yuan (sekitar US$1,31 miliar) kepada Evergrande dan 7 miliar yuan kepada anak perusahaan utamanya, Hengda.

Pengadilan juga memvonis lima eksekutif senior Evergrande lainnya dengan hukuman penjara selama 6 hingga 18 tahun. Media pemerintah CCTV melaporkan total ada 56 orang yang terkait dengan skandal Evergrande menerima vonis pada hari yang sama.

Kegagalan Evergrande membayar produk manajemen kekayaan bernilai miliaran dolar sebelumnya sempat memicu gelombang protes warga. Banyak investor ritel berpenghasilan menengah ke bawah yang kehilangan seluruh tabungan mereka.

"Semua rakyat biasa yang harus menanggung akibatnya," tulis salah satu warga di media sosial. "Apakah hukuman penjara ini bisa mengembalikan uang kami?" ujar korban lainnya.

Hui mendirikan Evergrande pada 1996 dan mengembangkannya menjadi pengembang properti terbesar di China melalui strategi penarikan utang yang agresif. Pada 2017, majalah Forbes mencatat kekayaan bersih Hui mencapai US$45,3 miliar.

Namun, Evergrande akhirnya gagal bayar (default) atas kewajiban utangnya yang membengkak hingga US$300 miliar. Pengadilan Hong Kong memerintahkan likuidasi Evergrande pada 2024, sebelum akhirnya saham perusahaan tersebut resmi dihapus (delisted) dari bursa saham.

Runtuhnya Evergrande pada 2021 disebut sebagai salah satu pemicu utama krisis di sektor properti China, yang hingga kini masih mengalami tekanan. Dampaknya juga dirasakan luas, mulai dari investor obligasi global hingga perbankan domestik yang menanggung kerugian miliaran dolar.

Sebelumnya, Hui Ka Yan, mengaku bersalah atas sejumlah dakwaan, termasuk penipuan penggalangan dana publik dan suap, dalam persidangan.

Pengakuan tersebut disampaikan dalam sidang yang berlangsung selama dua hari, sekitar tiga tahun setelah Hui berada di bawah pengawasan aparat atas dugaan aktivitas kriminal.

"Kami mencatat bahwa terdakwa mengaku bersalah di pengadilan dan menyampaikan penyesalan," tulis laporan media pemerintah China, Xinhua, pada Selasa (14/4).

(dal/tim/dal)
placeholder