PM Anwar Ibrahim Bela Klaim China atas Taiwan, Beijing Girang
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim membela klaim China atas Taiwan sebagai salah satu provinsi negara tersebut.
Beijing langsung menyambut gembira pernyataan Anwar Ibrahim. China menyatakan memberikan apresiasi kepada PM Malaysia tersebut yang membela prinsip "Satu China" terkait klaim atas Taiwan.
Beijing menilai bahwa sikap Anwar itu mencerminkan sentimen publik dan komitmen masyarakat internasional terhadap pendirian itu "tidak tergoyahkan".
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Senin (17/8), Anwar Ibrahim menyatakan dukungannya terhadap prinsip tersebut dan membela hak China untuk menggunakan kekuatan militer jika upaya reunifikasi damai menyatukan Taiwan gagal.
Prinsip "Satu China" yang dipegang Beijing menyatakan bahwa hanya ada satu Tiongkok. Dengan demikian, China mengeklaim Taiwan merupakan bagian dari negara itu dan bahwa Republik Rakyat China adalah satu-satunya pemerintah yang mewakili Tiongkok. Prinsip tersebut ditolak keras oleh pemerintah Taiwan saat ini, dikutip dari Channel News Asia.
China pun tidak pernah mengesampingkan opsi penggunaan kekuatan militer untuk menarik Taiwan ke bawah kendalinya, namun menyatakan lebih memilih "penyatuan kembali secara damai".
Pada 2025, Kementerian Luar Negeri Malaysia pun secara resmi mengakui kebijakan "Satu China" dan menegaskan bahwa pemerintah Beijing sebagai "satu-satunya pemerintah yang sah bagi China".
Pernyataan itu menyebut Taiwan sebagai "wilayah yang tidak dapat dipisahkan dari Republik Rakyat China".
Kuala Lumpur menegaskan bahwa demi tercapainya penyatuan kembali, Malaysia "tidak akan mendukung seruan apa pun terkait kemerdekaan Taiwan".
Dalam wawancara khusus dengan Al Jazeera, Anwar Ibrahim pun kembali menegaskan posisinya saat ditanya terkait Taiwan.
"Saya memandang Taiwan sebagai bagian dari China, titik," ujar Anwar Ibrahim, menjawab pertanyaan jurnalis soal sikapnya mendukung demkrasi yang bertolak belakang karena mendukung China mengeklaim Taiwan sebagai provinsi negara itu.
"Kita mungkin tidak sependapat dengan... Ada hal-hal yang berlebihan. Ya, silakan sampaikan pandangan Anda. Namun, hal itu harus dilakukan dalam konteks tersebut. Prinsipnya adalah satu China. Hal ini diakui oleh semua pihak," katanya lagi.
Anwar juga tidak mempermasalahkan apabila China menggunakan kekuatan militer atas Taiwan.
"Saya akan menggunakan Malaysia sebagai contoh. Jika satu provinsi memutuskan untuk memisahkan diri, apakah kita akan menggunakan kekerasan? Saya rasa saya akan mempertahankan keutuhan dan persatuan bangsa," tutur Anwar.
Saat ditanya apakah itu berarti ia akan menggunakan kekerasan jika terjadi upaya pemisahan diri, Anwar menjawab: "Ya Jika tidak, (negara ini) akan terpecah-belah."
China langsung merespons positif pendapat Anwar Ibrahim yang mendukung kebijakan "Satu China".
"China mengapresiasi pernyataan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengenai isu Taiwan serta sikap tegasnya terhadap prinsip Satu China. Tidak ada yang akan menghalangi reunifikasi China," tulis Kementerian Luar Negeri China di akun X.
Secara terpisah, dalam jumpa pers rutin pada Rabu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan bahwa menjunjung tinggi prinsip "Satu China" mencerminkan aspirasi publik dan "berpihak pada kebenaran", demikian dilaporkan kantor berita Xinhua.
"Hanya ada satu China di dunia dan Taiwan merupakan bagian tak terpisahkan dari wilayah Tiongkok," ujar Lin menanggapi pernyataan Anwar Ibrahim.
(bac)

