Terbongkar Erdogan Halangi CIA-Mossad Senjatai Kurdi di Iran

CNN Indonesia
Rabu, 19 Agu 2026 07:30 WIB
Turkey's President Recep Tayyip Erdogan addresses media representatives during a press conference at the NATO summit at the Ifema congress centre in Madrid, on June 30, 2022. (Photo by GABRIEL BOUYS / AFP)
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Foto: AFP/GABRIEL BOUYS
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berhasil menghalangi rencana Amerika Serikat (AS) dan Israel untuk mempersenjatai kelompok Kurdi dalam upaya menggulingkan pemerintahan Iran.

Menurut pejabat yang berbicara kepada The Telegraph, rencana tersebut dibahas oleh CIA dan Mossad. Rencana itu melibatkan ribuan milisi Kurdi dari Pemerintah Daerah Kurdistan (KRG) di Irak di bawah perlindungan udara dari AS.

Rencana tersebut muncul setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengunjungi Gedung Putih pada Februari lalu. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam skenario itu, pasukan Kurdi akan menyeberang dari Kurdistan Irak ke wilayah Iran untuk memicu pemberontakan dan menggulingkan pemerintahan Teheran.

Namun, Erdogan menentang rencana itu karena khawatir kelompok Kurdi akan mengancam keamanan Turki.

Menurut sumber Israel dan negara-negara Teluk, Erdogan diyakini sebagai salah satu pemimpin dunia yang paling dipercaya Trump. Erdogan mengatakan kepada Trump bahwa "ia tidak akan mentolerir kemerdekaan Kurdi di mana pun di wilayah tersebut".

Ia juga memperingatkan bahwa mempersenjatai kelompok Kurdi dapat membuat "sebagian besar musuh politiknya menjadi bersenjata dan berbahaya" di perbatasan timur Turki.

Intervensi Erdogan kemudian disebut ikut menyebabkan operasi tersebut gagal. Seorang pejabat senior Israel mengatakan bahwa intelijen tidak pernah menjamin keberhasilan perubahan rezim di Iran.

"Intelijen tidak menjanjikan bahwa (perubahan rezim) akan terjadi. Mereka mengatakan bahwa Anda dapat meningkatkan kemungkinan atau peluang terjadinya hal itu," kata pejabat tersebut kepada The Telegraph.

Di sisi lain, enam faksi Kurdi Iran dilaporkan bergabung dalam rencana serangan dari Kurdistan Irak. Koalisi tersebut bahkan disebut telah siap pada 18 Maret dan hanya menunggu persetujuan Trump.

Namun, sejumlah pejabat AS menilai rencana invasi darat oleh pasukan Kurdi tidak realistis. Menurut The New York Times, Trump bahkan menyebut skenario tersebut "konyol" setelah menerima pengarahan dari Direktur CIA John Ratcliffe.

Meski demikian, Trump sempat bertemu dengan para pemimpin Kurdi (1/3). Pada saat yang sama, Israel meningkatkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran barat, termasuk pangkalan militer, sistem rudal, dan fasilitas Basij.

Rencana tersebut kemudian mulai runtuh setelah detail operasi bocor ke media AS. Gedung Putih juga membantah bahwa AS mempersenjatai kelompok Kurdi untuk menjalankan operasi tersebut.

Erdogan dilaporkan terus melakukan lobi di Washington agar rencana itu dibatalkan. Negara-negara Teluk juga memperingatkan bahwa perpecahan etnis di Iran dapat mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah.

Kegagalan ini tidak diterima dengan baik di Tel Aviv. Direktur Mossad Roman Gofman memutuskan untuk memecat dua pejabat tinggi badan tersebut yang telah membantu mempersiapkan rencana perubahan rezim.

Isu perubahan rezim Iran kembali dibahas dalam pertemuan Trump dan Netanyahu di Gedung Oval, seperti dilaporkan Harici, (28/7). Netanyahu disebut masih meyakini perubahan rezim dapat terjadi dalam kondisi tertentu, tetapi tidak berhasil meyakinkan Trump.

Pada akhirnya, Trump disebut lebih memilih blokade ekonomi jangka panjang dibandingkan serangan udara untuk menghadapi Iran.

(mae/dna)