Menlu Iran: Kami Menang Perang dan Diplomasi Lawan AS

CNN Indonesia
Selasa, 18 Agu 2026 19:40 WIB
Iran's Foreign Minister Abbas Araghchi on the day he addresses a special session of the Conference on Disarmament at the United Nations, aside of U.S.-Iran talks in Geneva, Switzerland, February 17, 2026. REUTERS/Pierre Albouy     TPX IMAGES OF THE D
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Foto: REUTERS/Pierre Albouy
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengeklaim negaranya telah memenangkan perang dan diplomasi melawan Amerika Serikat (AS).

Dalam pernyataan di sebuah acara pada Selasa (18/8), Araghchi mengatakan sejumlah menteri luar negeri (menlu) menyampaikan padanya bahwa ketangguhan Iran dalam berperang dan bernegosiasi luar biasa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut para menlu, Iran sudah "menang, baik untuk perang maupun diplomasi" atas AS.

"Kami bertempur dengan kekuatan, dan kami bernegosiasi dengan kekuatan," ucap Araghchi, seperti dikutip Anadolu Agency.

Pada kesempatan itu, Araghchi juga menyampaikan bahwa AS sampai tak berkutik menghadapi Iran, bahkan setelah menggembar-gemborkan ingin Teheran menyerah tanpa syarat.

"Mereka yang menginginkan penyerahan tanpa syarat, tak lama setelah perang dimulai, memohon untuk dilakukan negosiasi," ujar Araghchi.

AS, menurut dia, pada akhirnya berlutut pada Iran dan menerima syarat-syarat Teheran, setelah Teheran tegas menolak gencatan senjata dan terus bertempur.

Pernyataan Araghchi ini disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump pada Senin (17/8) menyerukan Iran untuk "mengibarkan bendera putih". Seruan Trump itu dilontarkan dalam wawancaranya bersama Fox News.

Saat itu, Trump mengancam bahwa AS tak akan segan untuk meneruskan perang Timur Tengah hingga Iran sepenuhnya dilumpuhkan. Ia menambahkan dirinya punya banyak waktu untuk mencapai hal tersebut.

"Saya tidak punya jadwal waktu. Saya tidak terburu-buru," ucapnya, seperti dikutip Al Jazeera.

Amerika Serikat akan menggelar pemilihan paruh waktu pada November mendatang. Perang Iran telah menyebabkan Trump kehilangan kendali secara signifikan dan merusak dukungan politiknya.

Nota kesepahaman (MoU) damai yang diteken Juni lalu juga kini telah habis batas waktunya. MoU itu menetapkan agar kesepakatan dibuat dalam waktu 60 hari setelah penekenan guna mengakhiri perang secara permanen.

(blq/dna)