Menantu Trump 'Turun Gunung' Temui Hamas Bahas Pelucutan Senjata

CNN Indonesia
Selasa, 18 Agu 2026 17:20 WIB
WASHINGTON, DC - AUGUST 13: Senior Advisor to President Donald Trump Jared Kushner speaks during a press briefing at the White House on August 13, 2020 in Washington, DC. Kushner appeared with President Trump earlier today as Trump announced a new pe
Utusan khusus AS untuk Timur Tengah sekalius menantu Trump, Jared Kushner. Foto: AFP/TASOS KATOPODIS
Jakarta, CNN Indonesia --

Menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jared Kushner, bertemu perwakilan Hamas untuk membahas pelucutan senjata pada Minggu (16/8).

Kushner juga merupakan utusan khusus untuk Timur Tengah dan Gaza dari Dewan Perdamaian (Bord of Peace/BoP). Dia menggambarkan pembicaraan tersebut berlangsung ramah dan positif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengeklaim pelucutan senjata Hamas akan dimulai dalam 30 hari, demikian dikutip Al Jazeera. Lebih lanjut Kushner menerangkan Hamas menerima fase kedua gencatan senjata itu.

Namun, kelompok tersebut ingin Israel mematuhi kesepakatan sebelum memenuhi janjinya. Kushner juga menyebut Hamas menyampaikan hal-hal yang benar, tetapi AS juga meragukan komitmen mereka.

"Mereka mengatakan semua hal yang benar, tetapi jelas sangat, sangat sulit untuk mempercayai organisasi teroris yang melakukan kekejaman mengerikan ini," ujar dia.

Di berbagai kesempatan, Hamas berulang kali menegaskan tak akan mematuhi perjanjian selama Israel belum menarik pasukan dan masih menggempur wilayah itu.

Sejak pertama kesepakatan dirilis, Israel menolak mentah-mentah poin-poin itu. Pasukan Zionis juga telah melancarkan serangan hampir setiap hari ke Gaza sejak gencatan senjata diberlakukan pada November tahun lalu. Imbas operasi itu, 1.265 orang tewas.

Selain itu, militer Israel menggempur habis-habisan Gaza bahkan setelah BoP merilis kesepakatan pelucutan senjata Hamas.

Selama agresi brutal Israel di Palestina, lebih dari 73.000 warga tewas, ratusan ribu rumah dan fasilitas hancur, serta jutaan orang terpaksa menjadi pengungsi.

(isa/dna)