AS Bantah 7 Awak Kapal Induk USS Abraham Lincoln Tewas Berkelahi
Komando militer Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas Timur Tengah, CENTCOM, membantah laporan bahwa tujuh personel USS Abraham Lincoln tewas karena berkelahi di atas kapal.
Dalam pernyataan di media sosial X pada Jumat (14/8), Komando Pusat atau CENTCOM menyebut laporan perkelahian maut tersebut tidak benar karena tidak ada satu pun personel USS Abraham Lincoln yang meninggal dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama 48 jam terakhir, sejumlah media telah melaporkan klaim keliru terkait pengerahan USS Abraham Lincoln (CVN 72) di Timur Tengah. Salah satu laporan menyebut tujuh pelaut tewas dalam perkelahian di atas kapal induk tersebut, dan laporan lain baru-baru ini mengindikasi adanya lonjakan pikiran untuk bunuh diri di antara personel. Laporan-laporan ini TIDAK BENAR," tulis CENTCOM.
CENTCOM menegaskan tidak ada personel yang tewas di kapal perang tersebut. Meski begitu, CENTCOM membenarkan ada satu pelaut yang jatuh dari kapal pada 3 Agustus, namun tak menyebut alasan mengapa pelaut itu jatuh.
CENTCOM hanya menyebut kondisi sang pelaut saat ini telah sepenuhnya pulih.
"USS Abraham Lincoln mencatatkan salah satu tingkat perpanjangan masa tugas awak tertinggi di antara seluruh kapal induk di Angkatan Laut AS. Para pelaut dan marinir dari Gugus Tempur Kapal Induk Abraham Lincoln tetap tangguh dan teguh setelah lebih dari 263 hari bertugas di laut, melaksanakan 10.000 penerbangan pesawat, dan menggunakan amunisi seberat 1,5 juta pon," tulis CENTCOM.
"Berbagai pemberitaan keliru yang marak beredar mengenai pengerahan bersejarah USS Abraham Lincoln sangat merugikan para prajurit kami serta keluarga mereka," lanjut CENTCOM.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada Kamis (13/8) juga buka suara mengenai laporan-laporan ini.
Dalam pernyataan kepada reporter selama kunjungannya ke Panama, ia mengatakan laporan-laporan tersebut telah "disalahgambarkan sepenuhnya."
"Kami memastikan setiap kapal, setiap kru, setiap kapten memiliki semua yang bisa kami sediakan bagi mereka di setiap saat. Ada penugasan yang lebih lama dibandingkan lainnya, dan saya sangat menghormati dan berterima kasih kepada para pelaut tersebut. Apa yang mereka lakukan di laut lepas dalam kondisi yang serba terbatas dan dengan lebih sedikit kesempatan singgah di pelabuhan sungguh luar biasa," ucapnya.
Lihat Juga : |
Sebelumnya, sejumlah media melaporkan bahwa tujuh personel USS Abraham Lincoln tewas akibat bertengkar di atas kapal.
Peristiwa itu terjadi saat penasihat kepala Komando Pusat (CENTCOM) Brad Cooper mendatangi para pelaut dan marinir untuk menanggapi keluhan keluarga mereka soal masa tugas yang terlampau lama.
Saat itu, penasihat tersebut dikabarkan dilempari botol dan dicemooh. Kekacauan kemudian berubah menjadi perkelahiran antar kru yang melibatkan pisau dan senjata tajam lain.
Tujuh orang pun dilaporkan tewas dan beberapa lainnya terluka.
Dalam laporan terpisah, satu personel USS Abraham Lincoln juga dikabarkan melompat dari kapal karena stres berat akibat kelelahan.
Insiden itu dilaporkan pihak keluarga yang protes karena orang terkasihnya tak kunjung pulang.
Beberapa keluarga lain juga membenarkan ada sejumlah personel yang nekat ingin lompat dari kapal karena kelelahan hingga tak tahan dengan kondisi kapal. Beberapa upaya itu disebut berhasil digagalkan oleh sesama personel.
USS Abraham Lincoln dikerahkan ke Timur Tengah sejak November untuk mendukung operasi militer AS terhadap Iran.
Kapal induk itu sudah menghabiskan 208 hari berturut-turut di laut, yang merupakan penugasan terpanjang dari USS Abraham Lincoln.
Total, kapal perang itu telah dikerahkan selama 263 hari. Saat ini kapal beroperasi di Samudra Hindia.
MS Now melaporkan juru bicara Armada ke-5 Angkatan Laut AS, Komandan Joseph Hontz, telah menanggapi keluhan para keluarga yang memprotes. Hontz berjanji akan ada kapal yang menggantikan tugas USS Abraham Lincoln.
Namun, ia tak merinci kapan kapal tersebut dikerahkan karena alasan keamanan. Selain itu, ia mengakui adanya tekanan yang dialami para personel Abraham Lincoln, tetapi juga menegaskan bahwa para personel memiliki akses ke dokter, terapis, hingga pusat kebugaran di atas kapal.
(blq/bac)

