Sosok Ahmad Vahidi, Komandan Baru IRGC yang Ditunjuk Mojtaba

CNN Indonesia
Selasa, 11 Agu 2026 17:34 WIB
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei telah menunjuk dua jenderal baru untuk memimpin dua organisasi militer di sana.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei telah menunjuk dua jenderal baru untuk memimpin dua organisasi militer di sana. (REUTERS/Morteza Nikoubazl)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei telah menunjuk dua jenderal baru untuk memimpin dua organisasi militer di sana.

Khamenei menunjuk Ali Abdollahi sebagai kepala angkatan bersenjata baru dan Ahmad Vahidi sebagai Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi juga telah ditunjuk sebagai Panglima Korps Garda Revolusi Islam dengan pangkat mayor jenderal," demikian pernyataan resmi Mojtaba.

Penunjukan itu diumumkan melalui pernyataan di situs web pada Senin (10/8).

Komandan Al Quds pertama

Nama Vahidi bukan nama baru di lingkaran militer Iran. Dia pernah ikut dalam pertempuran Iran-Irak tahun 1980-an.

Selama Perang Iran-Irak, ia bekerja di bidang intelijen militer dan membantu mendirikan unit operasi intelijen IRGC.

Lahir pada tahun 1958 di Shiraz dengan nama Vahid Shahcheraghi, Vahidi bergabung dengan IRGC pada tahun 1980.

Pada tahun 1988, ia diangkat sebagai komandan pertama Pasukan Quds, yaitu satuan operasi luar negeri elit Garda Revolusi Islam.

Di era Presiden Mahmoud Ahmadinejad, Vahidi menjabat sebagai menteri pertahanan dari tahun 2009 hingga 2013, dengan fokus pada produksi rudal dan drone dalam negeri, seperti dikutip Euro News.

Kantor Berita Fars yang berafiliasi dengan IRGC menggambarkan periode itu sebagai "zaman keemasan pencegahan defensif Iran."

Ia kemudian memimpin Universitas Pertahanan Nasional Tertinggi sebelum diangkat menjadi menteri dalam negeri di bawah Presiden Ebrahim Raisi pada tahun 2021.

Secara politik, Vahidi termasuk dalam kubu konservatif garis keras "prinsipis" dan secara konsisten menganjurkan kemandirian militer serta ketidakpercayaan terhadap keterlibatan Barat.

Strategi Iran saat ini, yang sebagian dibentuk oleh pengaruh Vahidi, bertumpu pada dua pilar: mempertahankan kendali atas Selat Hormuz untuk menciptakan tekanan pasar energi pada Barat, dan menolak tuntutan AS untuk menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya milik Iran.

(isa/bac)


[Gambas:Video CNN]