Kata-kata Menohok Iran soal Pakta Baru Saudi, Pakistan, Turki Bak NATO

CNN Indonesia
Senin, 10 Agu 2026 19:00 WIB
Iran's foreign ministry spokesman Esmaeil Baghaei holds a weekly press conference in Tehran on October 28, 2024. Israel on October 26 launched air strikes on military sites in Iran, risking further regional escalation more than a year into the Gaza w
Iran buka suara usai Turki, Arab Saudi, dan Pakistan menandatangani perjanjian serupa NATO, Pakta Pertahanan Makkah, pada pekan lalu. (Foto: AFP/ATTA KENARE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Iran buka suara usai Turki, Arab Saudi, dan Pakistan menandatangani perjanjian serupa NATO, Pakta Pertahanan Makkah, pada pekan lalu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan pakta itu menjadi tanda perubahan persepsi negara di kawasan terhadap Amerika Serikat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Negara-negara di kawasan ini telah menyadari bahwa keamanan bukanlah komoditas yang bisa dibeli dari perantara palsu," kata Baghaei pada Senin (10/8).

Dia lalu berujar, "Negara-negara di kawasan ini tak bisa lagi mengandalkan klaim keamanan yang diberikan AS seperti di masa lalu."

Ia juga mengatakan Iran tak khawatir pakta tersebut ditujukan ke Teheran. Baghaei turut menyoroti ikatan keagamaan, sejarah, dan peradaban yang mendalam dengan Saudi, Turki, dan Pakistan.

"Tak ada yang khawatir bahwa perjanjian ini akan merugikan Iran," ungkap Baghaei.

Turki, Saudi, dan Pakistan menandatangani pakta itu pada 7 Agustus. Perjanjian tersebut menjadi sorotan karena mengandung pasal yang mirip Pakta Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Dalam Pakta Pertahanan Makkah ada klausul yang mirip bahwa serangan terhadap salah satu dari tiga negara itu akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiga anggota.

Namun, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyatakan perjanjian itu tak menganggap negara mana pun sebagai ancaman.

"Tidak ada ancaman bersama yang kami tuangkan secara tertulis," kata dia kepada Anadolu Agency, Sabtu (8/8).

Fidan juga menegaskan perjanjian tersebut tak menargetkan negara mana pun yang tak menyerang negara yang menandatangani pakta.

Lebih lanjut, dia menyebut diskusi inisiatif itu sebetulnya sudah berlangsung lama, bahkan sebelum perang Amerika Serikat dan Israel vs Iran.

Di kesempatan itu, Fidan menekankan bahwa Turki, Saudi, dan Pakistan bukan lah negara yang memiliki kebijakan ekspansionis.

"Mereka adalah negara-negara yang peduli dengan perbatasan mereka sendiri, masalah mereka sendiri, dan pembangunan mereka," kata Fidan.

(isa/rds)


[Gambas:Video CNN]