Cerita Haru Korban Selamat dari Penembakan Massal di Sekolah Thailand
Salah satu korban yang selamat dari penembakan massal di sekolah Thailand menceritakan upaya dia dan teman-temannya lolos dari tragedi mematikan itu.
Penembakan itu terjadi di Debsirin Nonthaburi School, Bangkok, pada Jumat (7/8). Saat ledakan pertama terdengar, Khim dan teman-teman kelasnya mengintip dari jendela kelas. Ledakan kemudian kian keras dan berulang.
"Saya dengan beberapa tembakan dan merasa kami tak akan selamat," kata Khim pada Sabtu (8/8), dikutip Reuters.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu guru di sekolah itu lantas berusaha mengamankan Khim dan teman-temannya. Mereka memindahkan meja untuk mengalangi pintu, mematikan lampu, dan berkerumun di pojok ruang kelas di Gedung 5.
Khim kemudian memeriksa tabletnya dan menerima pesan dari sang ibu yang berisi peringatan soal penembak.
"Saya bilang saya tahu, dan saya bilang, 'Bu jangan telepon saya, karena nada deringnya mungkin akan berbunyi'," kata dia.
"Lalu, saya mendengar suara ledakan sangat keras. Rasanya seperti tepat di sebelah telinga saya," imbuh Khim.
Dia dan teman-temannya menyadari terduga pelaku hanya berjarak beberapa meter dari tempat persembunyian.
Tak lama kemudian, guru yang bersama mereka menginstruksikan agar mengevakuasi ruang kelas, sementara polisi mengamankan sebagian sekolah. Namun,saat itu, pelaku bergerak ke gedung 4, tempat kakak Khim bersembunyi.
Di tengah persembunyian itu, kakak Khim menelepon sang ayah, Kwan, yang sedang bekerja di rumah sakit. Dia memperkirakan pelaku menggunakan pistol. Kwan lalu meminta anaknya menghitung jumlah tembakan dengan asumsi pistol tak akan menampung lebih dari 15 sampai 20 peluru.
"Hitung tembakannya untuk memastikan apakah dia kehabisan peluru," kata Kwan ke anaknya pada saat kejadian.
Menurut keterangan polisi terduga pelaku menggunakan setidaknya 26 peluru. Sebanyak 34 butir peluru lain ditemukan di barang bawaannya.
Kwan lebih lanjut menceritakan suara tembakan terus mendekati tempat persembunyian sang putri. Dari telepon lain, dia lantas menghubungi saluran telepon darurat. Operator saat itu memberi tahu bahwa polisi, termasuk unit khusus, sudah tiba di sekolah.
"Saya memberi tahu mereka, 'Saat ini, saya sedang berbicara dengan anak saya melalui telepon. Dia ada di lantai dua, [polisi sedang] memeriksa dan mengamankan ruangan satu per satu dari sisi kanan,'" kata Kwan.
Tanpa peringatan, panggilan telepon dengan putrinya terputus. Kwan lalu mulai berdoa, sampai sang putri menelepon kembali beberapa menit kemudian. Dia tak terluka. Beberapa jam kemudian, keluarga itu berkumpul kembali di rumah mereka di pinggiran kota Bangkok, tidak jauh dari sekolah.
"Saat bersama, kami selalu bertengkar," kata Khim tentang kakak perempuannya.
"Tapi melihatnya kali ini, aku belum pernah menyayanginya sebanyak ini sebelumnya."
Aksi penembakan itu berlangsung sekitar 40 menit. Pelaku menembak tiga guru, dua petugas sekolah, dan meluncurkan peluru ke arah dirinya.
Menurut keterangan polisi, pelaku juga menembak mati kakek dan neneknya di rumah menjelang pagi. Dia kemudian naik bus ke sekolah, setibanya di sana sekitar pukul 10.00 waktu setempat peluru mulai meluncur.
[Gambas:Video CNN]


