Polisi Korsel Geledah Kantor Starbucks buntut Kontroversi Iklan
Kantor pusat Starbucks Korea Selatan (Korsel) digeledah kepolisian pada Rabu (5/8) di tengah kontroversi iklan kedai kopi tersebut.
Korea JoongAng Daily melaporkan penggeledahan dilakukan usai pihak berwenang membuka kasus kontroversi iklan Starbucks dua bulan lalu, setelah diajukan oleh sebuah kelompok sipil.
Korps detektif khusus provinsi dari Badan Kepolisian Metropolitan Seoul mengirim penyelidik ke kantor pusat Starbucks di gedung Centerfield di Distrik Gangnam, Seoul selatan, untuk mengamankan materi terkait.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Materi-materi tersebut hendak ditinjau kepolisian untuk kemudian ditentukan bagaimana iklan Starbucks dikembangkan hingga memicu kegaduhan publik.
Dilansir dari CNN, krisis Starbucks Korsel dimulai ketika jaringan kedai kopi tersebut meluncurkan iklan "Tank Day" untuk mempromosikan lini tumbler "Tank".
Namun, kampanye pemasaran itu diresmikan pada hari yang sama dengan Hari Gerakan Demokratisasi, yang memperingati Pemberontakan Gwangju tahun 1980, peristiwa ketika 100 lebih warga sipil tewas dalam demonstrasi pro-demokrasi yang dipimpin mahasiswa era pemerintahan militer.
Penindakan brutal saat itu masih amat membekas dalam ingatan masyarakat dan merupakan topik sensitif.
Peristiwa ini adalah salah satu alasan mengapa masyarakat Korsel bereaksi sangat cepat dan keras ketika Presiden sebelumnya, Yoon Suk Yeol, mendeklarasikan darurat militer pada Desember 2024.
Menurut para kritikus, promosi Tank Day Starbucks Korsel mengolok-olok aktivis pro-demokrasi. Mereka berpendapat slogan kampanye yang berbunyi "Tak! di atas meja" menghina mendiang aktivis Park Jong Cheol yang meninggal setelah disiksa polisi.
Park diklaim tewas setelah seorang petugas "memukul meja dengan tak". Tak adalah kata yang dipakai Korsel untuk menggambarkan bunyi suara tajam, terutama benturan keras, mirip dengan "bang" dalam bahasa Inggris.
Menyusul kontroversi promosi tersebut, para korban gerakan dan sebuah kelompok sipil mengajukan aduan pidana terhadap Ketua Grup Shinsegae, Chung Yong Jin, dan beberapa orang lainnya atas tuduhan melanggar Undang-Undang Khusus tentang Gerakan Demokratisasi 18 Mei, penghinaa, dan pencemaran nama baik.
Starbucks Korea Selatan adalah anak perusahaan raksasa ritel Shinsegae.
Starbucks Korsel telah mengeluarkan permintaan maaf resmi usai iklannya dikecam. Tak lama kemudian, Starbucks Global menyatakan telah membuka penyelidikan terkait hal ini.
Sehari setelah peluncuran kampanye tersebut, Shinsegae memecat CEO Starbucks Korsel dengan alasan "pemasaran yang tidak pantas."
Sejak itu, perusahaan mengalami penurunan penjualan yang signifikan dan mengambil langkah-langkah penanganan darurat, termasuk menutup semua tokonya di Korea Selatan saat sore di bulan Juni agar seluruh staf dapat mengikuti pelatihan wajib tentang kesadaran sejarah dan kepekaan sosial.
(blq/dna)