Sejarah Hubungan Mesra Maroko-Israel saat Tegang Imigran Serbu Spanyol

CNN Indonesia
Senin, 03 Agu 2026 16:25 WIB
Members of the Royal Moroccan Navy patrol on the Moroccan side of the floating barrier off the border with Morocco, following mass crossings of migrants on foot and by sea from Morocco into Spanish territory, as seen from Ceuta, Spain, August 2, 2026
Sekitar 50 ribu hingga 60 ribu imigran asal Maroko berusaha menyeberang ke Spanyol melalui darat dan laut pada akhir Juli lalu. (Foto: REUTERS/Violeta Santos Moura)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sekitar 50 ribu hingga 60 ribu imigran asal Maroko berusaha menyeberang ke Spanyol melalui darat dan laut pada akhir Juli lalu. Mereka transit di sebuah wilayah otonom milik Spanyol Ceuta.

Diperkirakan ada lebih dari 50 orang tewas dalam upaya penyeberangan tersebut.

Ada dugaan ribuan imigran tersebut mendalangi hingga menimbulkan kekacauan. Al jazeera melaporkan "beberapa pengamat percaya bahwa Maroko memang mengatur kekacauan tersebut, kemungkinan besar mereka didorong oleh pihak lain, dengan menunjuk dua pemimpin yang memiliki dendam khusus terhadap Presiden Spanyol Sanchez - Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu," tulis media tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hubungan Maroko-Israel

Maroko adalah salah satu negara mayoritas Muslim di Afrika yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel pada 2020 lewat Perjanjian Abraham yang ditengahi oleh Presiden AS Donald Trump.

"Sebagai imbalannya, pemerintahan Trump telah memberikan dukungan penting kepada Maroko di PBB dan melalui saluran bilateral, membawa Rabat lebih dekat untuk mengamankan kendali yang lebih besar atas Sahara Barat."

Semenjak itu, Maroko jauh lebih ramah terhadap Israel daripada Spanyol. Pada tahun 2024, Spanyol menolak mengizinkan kapal kargo berbendera AS yang membawa senjata untuk Israel berlabuh di Algeciras, sehingga kapal tersebut dialihkan ke Maroko.

Pada tahun yang sama, otoritas Maroko mengizinkan kapal perang Israel berlabuh di Tangier untuk mengisi bahan bakar dan perbekalan dalam perjalanan dari AS ke Israel, setelah Spanyol menolak akses pelabuhan bagi kapal tersebut.

Banyak warga Israel menganggap dukungan Madrid terhadap Palestina sebagai tindakan munafik mengingat Spanyol juga menduduki wilayah Arab.

Pada tahun 2019, putra Netanyahu, Yair, mencuit peta Ceuta dan Melilla, dengan mengatakan, "Kepada orang-orang Arab dan Muslim yang terhormat. Ingin membebaskan tanah Islam Arab yang diduduki? Ini adalah awal yang baik!"

Pada bulan Maret tahun ini, sebuah artikel yang ditulis oleh Michael Rubin, seorang peneliti di American Enterprise Institute, untuk Middle East Forum yang sangat pro-Israel mendesak: "Warga Maroko harus berkumpul, mengirimkan buldoser ke perbatasan, dan kemudian memasuki Ceuta dan Melilla tanpa senjata untuk mengibarkan bendera."

Pada bulan April, analis Maroko pro-Israel, Amine Ayoub, menulis sebuah artikel untuk situs web Israel Ynet News yang berpendapat: "Ketegangan AS-Spanyol terkait NATO dan Iran menciptakan peluang bagi Maroko untuk mendesak klaim atas Ceuta dan Melilla, dengan Israel berada pada posisi untuk mendukung Rabat secara diplomatik dalam aliansi yang dipimpin AS yang semakin mengutamakan mitra kerja sama daripada negara-negara Eropa yang masih menolak."

Dari sinilah pejabat Israel dan Spanyol terlibat saling sindir di media sosial di tengah krisis migrasi. Perdebatan itu mencuat setelah Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon menyinggung kebijakan imigrasi Madrid dan status Ceuta sebagai wilayah Spanyol.

Danon mengkritik Spanyol yang menurutnya kerap mengecam Israel terkait perang di Gaza, tetapi kini menetapkan keadaan darurat akibat krisis migrasi di Ceuta. 

(imf/rds)


[Gambas:Video CNN]