Serangan Israel ke Gaza Makin Menjadi Akhir Pekan Ini, 11 Orang Tewas

CNN Indonesia
Minggu, 02 Agu 2026 20:51 WIB
Serangan Israel ke Gaza terjadi akhir pekan ini, tewaskan 11 orang hari ini. Sementara itu Menteri Israel menegaskan perlunya kontrol penuh atas Gaza.
Ilustrasi. Serangan Udara Israel Hantam Masjid di Gaza pada 28 Juli 2026. (REUTERS/Dawoud Abu Alkas)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Serangan Israel ke Gaza, Palestina, meningkat akhir pekan ini, tewaskan 11 orang hari ini. Sementara itu Menteri Israel menegaskan perlunya kontrol penuh mereka atas Gaza.

Mengutip dari Aljazeera, per pukul 18.39 WIB, setidaknya dua korban terbaru dari 11 korban tewas itu dilaporkan karena serangan udara Israel yang menghantam sebuah mobil di Deir el-Balah, Gaza.

Dua hari berturut-turut serangan udara Israel menghantam sejumlah wilayah di Gaza akhir pekan ini. Serangan itu terus dilakukan Negara Zionis di tengah klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump soal adanya terobosan dalam upaya menjalankan kesepakatan gencatan senjata Gaza tahun lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut pejabat kesehatan Palestina, pesawat tempur Israel melancarkan serangan terpisah di Kota Gaza utara, Deir al-Balah di tengah, dan Khan Younis di selatan.

Tenaga medis menyebut seorang pria dan istrinya tewas serta empat orang luka-luka dalam serangan ke sebuah apartemen di Deir al-Balah, sementara dua orang lain, termasuk seorang anak, tewas dalam serangan ke apartemen di Kota Gaza.

Seorang ayah, ibu, dan anak laki-laki mereka yang berusia 9 tahun tewas menjelang fajar setelah serangan ke rumah mereka di kawasan Mawasi, Khan Younis. Satu orang lain tewas di dekat Jabalia, Gaza utara.

Militer Israel menyatakan serangan di Deir al-Balah menyasar dua komandan pasukan elite Hamas, Nukhba. Serangan di Kota Gaza dan Jabalia disebut juga menyasar operatif militer, meski militer menyebut masih meninjau situasinya.

Genosida

Mengutip dari Aljazeera, seorang relawan medis di Gaza, James Smith mengatakan sistem kesehatan di wilayah itu sudah lama kolaps sejak serangan Israel yang tak mengendur mulai Oktober 2023 lalu. Bahkan, sambungnya, militer Israel terang-terangan menargetkan fasilitas medis di Gaza.

Salah satunya gudang medis yang menyimpan obat-obatan penting di Gaza selatan yang diserang pada Sabtu (1/8) kemarin. Hal itu membuat Smith menyebut apa yang terjadi di Gaza tiga tahun terakhir sebagai sebuah genosida.

"Ini mengerikan... bangunan [tempat kami berada] bergetar ketika serangan itu terjadi," kata dokter itu. 

Dia berprasangka buruk bahwa Israel dengan sengaja melemahkan sistem perawatan kesehatan Gaza selama tiga tahun terakhir. Sehingga, dia menyebut itu sebagai indikasi genosida terhadap rakyat Palestina di Gaza.

"Kita harus benar-benar jelas tentang apa yang sedang dilakukan di sini, yaitu genosida pelan-pelan (slow genocide): pencekikan sistem perawatan kesehatan dengan dampak langsung dan lintas generasi terhadap kesehatan dan kesejahteraan rakyat Palestina," kata Smith yang berbicara dari daerah al-Mawasi di Gaza selatan.

Menurutnya selama ini pasien yang datang ke rumah sakit dengan berbagai gejala hanya bisa mendapatkan beberapa tablet parasetamol karena kekurangan obat. Memang ada bantuan yang masuk, tapi sejak tahun lalu hanya 1,6 persen yang datang untuk sektor kesehatan.

Bukan hanya itu pendukung kehidupan seperti sistem air dan sanitasi rusak. Selain itu bantuan makanan yang masuk ke Gaza, katanya, "berkualitas sangat rendah." Fasilitas tempatnya bekerja mendiagnosa anak-anak yang mengalami kekurangan gizi setiap minggu.

Ambisi Israel kuasai Gaza

Sementara itu, Menteri Energi Israel Eli Cohen, yang juga anggota kabinet keamanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, mengatakan tidak ada kesepakatan untuk menghentikan serangan ke Gaza.

Mengutip dari Reuters, dia menyebut Israel perlu mengontrol seratus persen wilayah Gaza. Menurutnya saat ini Negara Yahudi itu sudah mengontrol 70 persen wilayah di Gaza.

Kepada Army Radio, Cohen menyatakan tidak percaya Hamas akan melucuti senjata, dan menduga kelompok itu justru akan bermain-main serta berupaya menyembunyikan persenjataannya.

Dia adalah pejabat senior Israel yang menyuarakan resistensi pada kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas yang dimediasi AS. Sebelumnya Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir juga menyebut draf kesepakatan gencatan senjata itu 'tidak dapat diterima'.

Menurut Ben-Gvir, Israel semestinya terus melakukan pembunuhan terhadap pemimpin Hamas.

Klaim terobosan Trump

Trump mengatakan pada Kamis (30/7) telah terjadi terobosan, setelah Hamas setuju melucuti senjata di bawah inisiatif yang didukung AS untuk menjalankan kesepakatan gencatan senjata yang dicapai tahun lalu di Mesir.

Board of Peace, badan pimpinan AS yang mengawasi gencatan senjata itu, menerbitkan peta jalan 15 poin pada Jumat (31/7) berisi langkah-langkah akhir penerapan kesepakatan.

Namun peta jalan itu belum diterapkan. Menurut Hamas, mereka baru akan menyerahkan senjata untuk disimpan setelah Israel menghentikan operasi militer dan menarik pasukannya sesuai kesepakatan tahun lalu.

Seorang pejabat Israel mengatakan kepada Reuters tidak akan ada penarikan dari posisi militer saat ini kecuali Hamas menjalani "pelucutan senjata sungguhan".

Netanyahu belum berkomentar terbuka soal inisiatif ini.

(kid)


[Gambas:Video CNN]