Pakar Ungkap Kesalahan Paling Dasar Trump dalam Perangi Iran, Apa Itu?

CNN Indonesia
Rabu, 29 Jul 2026 21:10 WIB
U.S. President Donald Trump gestures during a press conference on the day of a NATO leaders' summit in Ankara, Turkey, July 8, 2026. REUTERS/Stoyan Nenov
Serangan AS ke Iran sudah memasuki enam bulan dengan biaya mencapai Rp672 triliun, namun AS belum juga bisa benar-benar memenangkan pertempuran. (Foto: REUTERS/Stoyan Nenov)
Jakarta, CNN Indonesia --

Serangan Amerika Serikat ke Iran sudah memakan waktu enam bulan dan biaya mencapai US$37,5 miliar (sekitar Rp672 triliun).

Namun, Presiden Donald Trump tak pernah menyatakan menang dan Iran masih tetap kuat bertahan. Bahkan banyak pihak menilai perang AS ke Iran yang juga dibantu Israel ini sudah tidak memiliki target yang jelas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada akhirnya, kesalahan paling mendasar adalah kesalahan yang paling sederhana, memulai perang tanpa tujuan politik yang jelas, tanpa memahami ke mana Operasi Epic Fury perlu membawa Amerika Serikat secara strategis," kata Michael Schmitt, Profesor Hukum Internasional Amerika Serikat lewat tulisannya di laman justsecurity.org 21 Juli lalu.

Awalnya Operasi Epic Fury mengejar berbagai tujuan secara bersamaan, yang masing-masing membutuhkan struktur kekuatan dan pendekatan operasional yang berbeda. Sejauh tujuan akhirnya adalah melemahkan kemampuan militer regional Iran, pasukan yang tersedia bagi Komando Pusat AS berada pada posisi yang tepat untuk melakukan perang ofensif terbatas untuk mencapai tujuan tersebut.

"Meskipun demikian, langkah-langkah tersebut terbukti tidak cukup untuk melucuti Iran dari kemampuan militer residual yang signifikan, sebagaimana dibuktikan oleh kemampuan Iran yang terus menutup Selat Hormuz dan melancarkan serangan terhadap pasukan dan mitra AS di kawasan tersebut," kata Michael yang juga pensiunan jaksa militer Angkatan Udara AS.

Sementara soal perubahan rezim Iran, menurutnya, membutuhkan kekuatan dan rencana operasional (termasuk upaya non-militer) yang mampu tidak hanya melumpuhkan Iran tetapi juga memastikan otoritas pengganti yang sesuai.

Perubahan rezim yang efektif juga membutuhkan rencana untuk menstabilkan situasi secara internasional dan diplomatik. Poin yang tampaknya terlewatkan adalah bahwa perubahan rezim itu sendiri tidak pernah cukup; yang penting adalah "hari setelahnya".

Selain itu, perubahan rezim adalah cara yang paling mungkin untuk memastikan Iran memutuskan hubungan dengan kelompok teroris proksinya.

Tanpa sarana untuk mengamankan perubahan rezim, sulit untuk melihat bagaimana tujuan itu dapat dicapai. Bahkan, Operasi Epic Fury hanya memperdalam ketergantungan Iran pada cara-cara asimetris, seperti operasi proksi, untuk mengimbangi penurunan kekuatan konvensionalnya.

Dan rencana tersebut tampaknya gagal memperhitungkan kemungkinan reaksi Iran, yang tidak menganggap konflik tersebut sebagai operasi terbatas terhadap infrastruktur militernya, tentu saja tidak setelah pemimpin tertingginya terbunuh.

Bagi Iran, konflik tersebut tampak sebagai ancaman eksistensial, yang akan membenarkan pengeluaran biaya yang tinggi. Iran merespons, seperti yang dapat diprediksi, dengan seluruh perangkat yang tersedia - serangan rudal dan drone terhadap fasilitas minyak regional dan pusat perdagangan, pengaktifan proksi di Lebanon dan Irak, operasi Houthi di Laut Merah, dan penutupan Selat Hormuz.

Dengan analisi yang tajam, Michael menjelaskan bahwa Operasi Epic Fury secara gamblang menggambarkan bagaimana kegagalan untuk mengidentifikasi dan bertindak pada titik puncak dapat mendorong penyerang ke dalam rawa yang sulit untuk dilepaskan.

Bukti paling pasti bahwa Amerika Serikat telah melewati titik puncak adalah situasi strategis saat ini. Amerika Serikat sekarang harus menegosiasikan konsesi Iran yang telah ada sebelum konflik dimulai, seperti jalur transit melalui Selat Hormuz. Iran kini malah menguasai Selat Hormuz, yang tidak terjadi sebelum perang meletus.

(imf/rds) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]