Saudi Kembali Bersitegang dengan Irak Buntut Serangan Drone di Riyadh

CNN Indonesia
Selasa, 28 Jul 2026 14:51 WIB
Arab Saudi kembali bersitegang dengan Irak setelah sejumlah wilayah Riyadh terkena serangan drone yang dituduh diluncurkan kelompok milisi dari Irak.
Arab Saudi kembali bersitegang dengan Irak setelah sejumlah wilayah Riyadh terkena serangan drone yang dituduh diluncurkan kelompok milisi dari Irak. (iStock/kutaytanir)
Jakarta, CNN Indonesia --

Arab Saudi dikabarkan kembali bersitegang dengan Irak setelah sejumlah wilayah Riyadh terkena serangan drone yang dituduh diluncurkan kelompok milisi dari teritori Irak.

MBN melaporkan kemarahan Saudi itu merebak baru-baru ini menjelang kunjungan Perdana Menteri Irak Ali Al Zaidi ke Riyadh pada 30 Juli mendatang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kementerian Pertahanan (Kemhan) Saudi pada Senin (27/7) mengaku telah mencegat dan menghancurkan sejumlah drone yang meluncur ke arah fasilitas minyak di Provinsi Timur dan wilayah Riyadh.

Menurut Kemhan Saudi, "upaya teror" tersebut berasal dari Irak dan dilakukan oleh "milisi teroris yang berafiliasi dengan Iran."

Tak lama setelah laporan ini, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Saudi mengeluarkan pernyataan keras yang mengutuk serangan tersebut. Juru bicara Kemhan Saudi Mayor Jenderal Turki Al Maliki ikut menyampaikan bahwa pihaknya "berhak menanggapi pada waktu dan tempat yang tepat."

Ini merupakan pernyataan keras terbaru Saudi atas serangan drone yang menargetkan wilayahnya. Sebelum ini, yakni pada 17 Mei, Saudi juga menyampaikan bahwa beberapa drone dari wilayah udara Irak telah mendekati dan menargetkan fasilitas minyak kerajaan.

Saat itu, Irak membantah ada peluncuran drone dari wilayahnya. Baghdad mengaku tidak tahu menahu tentang insiden tersebut.

Pada 12 Juli lalu, Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein melakukan kunjungan tingkat tinggi ke Riyadh yang diharapkan dapat meredakan ketegangan antara kedua negara pasca serangan drone ke Saudi.

Hussein saat itu berangkat sebagai kepala delegasi keamanan dan diplomatik senior, yang turut mencakup penasihat keamanan nasional Irak dan kepala Badan Intelijen Nasional Irak.

Menurut pernyataan Kemlu Irak, kedua pihak saat itu membahas "cara-cara untuk memperkuat hubungan bilateral dan mengembangkan mekanisme untuk koordinasi dan kerja sama bersama."

Hussein pada kesempatan itu mengakui hubungan Irak-Saudi telah dibayangi oleh perang Iran. Negaranya, kata dia, termasuk di antara negara-negara paling terpengaruh oleh upaya pelemahan hubungan dengan negara-negara Arab.

Namun demikian, menurut sumber MBN, perwakilan Irak dan Saudi pada faktanya tarik urat selama pertemuan.

Para pejabat Saudi saat itu bertanya langsung kepada delegasi Irak mengenai serangan yang dilancarkan dari wilayah Irak.

Delegasi Irak, sebagai respons, bersikeras tidak memiliki informasi tentang serangan tersebut dan bahwa tidak ada serangan terhadap Arab Saudi yang berasal dari Irak.

Mendengar jawaban itu, Saudi menyodorkan bukti-bukti, termasuk rute terbang drone yang digunakan dalam serangan. Salah satu bukti paling signifikan yaitu yang menunjukkan bahwa drone-drone tersebut dilepaskan dari lokasi yang relatif dekat dengan perbatasan Saudi-Irak, bukan dari posisi Iran atau tempat lain.

Tidak disampaikan bagaimana reaksi Irak setelah disodorkan bukti-bukti tersebut.

Hanya saja, menurut pejabat senior pemerintah Irak, pertemuan ini yang menjadi akar kemarahan Saudi terhadap Irak.

Menurut seorang sumber Saudi, Riyadh sangat khawatir tentang wilayah Irak yang berbatasan dengan keraajaan, terutama wilayah gurun di provinsi Najaf dan Muthanna.

Saudi meminta jaminan dari Irak bahwa Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) akan dijauhkan dari daerah-daerah tersebut.

Menurut profesor ilmu politik Universitas Baghdad, Ihsan Al Shammari, serangan pesawat nirawak terbaru ini sedikit banyak telah mengacaukan rencana kunjungan Al Zaidi ke Riyadh.

Al Zaidi rencananya bertandang ke Riyadh untuk membahas berbagai isu ekonomi, termasuk mengaktifkan kembali jalur pipa ekspor minyak Irak ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Menurut berbagai sumber, Al Zaidi juga berencana meyakinkan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman bahwa pemerintahannya tidak akan mengizinkan wilayah Irak digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Arab Saudi maupun negara-negara Arab lainnya.

(isa/bac) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]