Trump Bakar Duit Rp671 T Selama Perangi Iran, Minta Rp1.199 T Tambahan

CNN Indonesia
Rabu, 22 Jul 2026 07:50 WIB
U.S. Defense Secretary Pete Hegseth looks at U.S. President Donald Trump as he speaks during a bilateral dinner with Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu (not pictured), at the White House in Washington, D.C., U.S., July 7, 2025. REUTERS/Kevin L
Presiden AS Donald Trump dan Menhan AS Pete Hegseth (kanan). (Foto: REUTERS/Kevin Lamarque)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengungkapkan Washington telah menghabiskan sekitar US$37,5 miliar (Rp671 triliun) untuk perang melawan Iran selama lima bulan terakhir.

Dalam sidang Senat mengenai permintaan anggaran tambahan bagi Pentagon pada Selasa (21/7), Hegseth mengatakan kementeriannya meminta tambahan anggaran lagi untuk keperluan perang dengan Iran yang kembali berlanjut sejak sepuluh hari terakhir. Padahal kedua negara telah menyepakati perjanjian gencatan senjata bahkan nota kesepahaman (MoU) upaya mengakhiri perang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perkiraan yang kami miliki hingga hari ini adalah US$37,5 miliar (Rp671 triliun)," kata Hegseth ketika ditanya mengenai biaya perang melawan Iran selama ini. 

Hegseth menuturkan kementeriannya mengajukan permintaan anggaran tambahan sebesar US$67 miliar (Rp1.199 triliun) yang berkaitan dengan perang melawan Iran.

Dalam keterangannya, Hegseth mengklaim bahwa Iran kini berada pada "titik terlemah secara militer dalam satu dekade terakhir", bahkan mungkin yang terlemah dalam 47 tahun terakhir*. Ia juga mengatakan bahwa ribuan rudal balistik Iran telah berhasil dihancurkan.

Dikutip Anadolu Agency, saat didesak menjelaskan bagaimana Iran masih mampu mengontrol serta memblokade Selat Hormuz, Hegseth berdalih Amerika bisa berhasil memindahkan antara 200 hingga 500 juta barel minyak "tepat di bawah hidung Iran."

"Kami melakukannya secara diam-diam, karena itu jauh lebih efektif daripada dilakukan secara terbuka... Kami telah mengendalikan pergerakan lalu lintas di sana selama cukup lama," tambahnya.

"Kami sempat memiliki gencatan senjata, tetapi kemudian mereka menyerang pelayaran komersial," ujarnya.

Sementara itu, Partai Demokrat menyampaikan penolakan keras terhadap permintaan anggaran tambahan ini. Mereka berpendapat bahwa perang tersebut merupakan perang yang dipilih (war of choice), bukan perang yang didorong oleh kebutuhan (war of necessity).

Demokrat juga mempertanyakan Menhan Pete Hegseth terkait apa yang mereka nilai sebagai pernyataan yang tidak konsisten dan kurang jelas mengenai operasi militer AS di Iran selama ini.

Dikutip Al Jazeera, Senator Jon Ossoff mempertanyakan mengapa pemerintahan Trump meminta tambahan anggaran setelah sebelumnya menyatakan bahwa kemampuan tempur lawannya telah berhasil dilumpuhkan.

Sejumlah senator Demokrat lainnya menyoroti berbagai kebutuhan dalam negeri yang dinilai lebih layak menerima pendanaan tersebut, seperti layanan penitipan anak, layanan kesehatan, serta bantuan biaya energi bagi rumah tangga.

Argumen-argumen tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap perang, yang hingga kini masih sangat tidak populer di Amerika.

Bahkan di kalangan pendukung Presiden Donald Trump sendiri, terdapat sedikit dukungan untuk mengalokasikan anggaran tambahan untuk perang melawan Iran.

Selama kampanye pemilu, banyak pemilih mendukung Trump karena percaya bahwa ia akan mencegah atau mengakhiri perang-perang di luar negeri.

Oleh karena itu, kebijakan pemerintahannya yang secara agresif melanjutkan konflik dengan Iran dinilai bertolak belakang dengan harapan banyak pemilih terhadap kepemimpinannya.

Seiring meningkatnya kekhawatiran masyarakat Amerika mengenai besarnya biaya perang, jatuhnya korban di kalangan personel militer AS, serta berlanjutnya keterlibatan militer di Timur Tengah, dukungan publik terhadap perpanjangan operasi militer tersebut tampaknya masih sangat terbatas.

(rds) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]