Israel Serbu Al Aqsa hingga Rusak Sekolah di Yerusalem Timur Palestina

CNN Indonesia
Kamis, 16 Jul 2026 11:45 WIB
Jewish worshippers visit Al-Aqsa compound, known to Jews as the Temple Mount, in Jerusalem's Old City, July 15, 2026. The Dome of the Rock can be seen in the background. REUTERS/Naama Stern
Pemukim Israel menyerbu Masjid Al Aqsa di Yerusalem Timur Palestina yang masih diduduki negara Zionis itu sambil melantunkan lagu-lagu dan slogan provokatif. (Foto: REUTERS/Naama Stern)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemukim Israel menyerbu Masjid Al Aqsa di Yerusalem Timur Palestina yang masih diduduki negara Zionis itu pada Rabu (15/7) pagi sambil melantunkan lagu-lagu dan slogan provokatif di halaman kompleks masjid.

Menurut laporan Anadolu Agency, kantor Kegubernuran Yerusalem turut merilis rekaman video yang memperlihatkan para pemukim berada di dalam kompleks Masjid Al Aqsa saat aksi tersebut berlangsung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan laporan yang dirilis Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina pada Minggu, pasukan Israel melakukan 26 kali penyerbuan ke kompleks Masjid Al Aqsa selama Juni.

Padahal, berdasarkan status quo perjanjian, pemukim Israel terutama umat Yahudi dilarang memasuki Masjid Al Aqsa terlebih untuk beribadah di sana. Namun, sejak 2003, kepolisian Israel mengizinkan para warganya memasuki kompleks masjid setiap hari, kecuali pada Jumat dan Sabtu.

Dikutip Middle East Monitor, warga Palestina menilai Israel selama puluhan tahun terus meningkatkan upaya "Yahudisasi" terhadap Yerusalem Timur, termasuk kawasan Masjid Al Aqsa, serta berupaya menghapus identitas Arab dan Islam di kota tersebut.

Yerusalem memang menjadi kota suci bagi umat tiga agama yakni Islam, Kristen, dan Yahudi. Masjid Al Aqsa, kilbat pertama umat Muslim, juga menjadi tempat suci bagi umat Yahudi.

Bagi umat Islam situs suci itu disebut sebagai al-Haram Al Sharif (The Noble Sanctuary). Sementara orang Yahudi menyebutnya sebagai Har-ha-Bayit (Temple of Mount).

Sehari sebelum penyerbuan pada Rabu, anggota Knesset Israel Tzvi Sukkot bahkan menyerbu sebuah sekolah yatim piatu di Kota Tua Yerusalem Timur.

Ia merusak papan nama sekolah yang memuat nama institusi dan bendera Palestina, serta mengancam akan menutup sekolah tersebut bersama lembaga pendidikan Palestina lainnya di kota itu.

Sukkot, yang merupakan anggota partai sayap kanan Religious Zionism, mengunggah video yang memperlihatkan dirinya memasuki sekolah dan menghancurkan papan nama tersebut.

"Sekolah milik Otoritas Palestina tidak boleh terus beroperasi di wilayah yang berada di bawah kedaulatan Israel," ujarnya.

Sukkot, yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Pendidikan Knesset, menambahkan, "Kami akan menutup sekolah ini dan semua lembaga pendidikan serupa di Yerusalem."

Sementara itu, anggota Knesset dari kalangan komunitas Arab Israel, Ayman Odeh, mengecam tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai serangan terhadap lembaga pendidikan Palestina.

"Bagaimana mungkin ketua Komite Pendidikan Knesset masuk ke sebuah sekolah di Yerusalem Timur dan merusaknya hanya karena ada bendera Palestina di sana?" tulis Odeh melalui platform X.

"Bayangkan jika ketua Komite Pendidikan di negara lain memasuki sekolah Yahudi lalu merusaknya hanya karena sekolah itu mengibarkan bendera Israel. Seluruh dunia pasti akan merasa ngeri, dan memang seharusnya demikian," tambahnya.

Odeh menegaskan bahwa sekolah merupakan tempat bagi anak-anak untuk belajar dan berkembang, bukan arena pelampiasan kepentingan politik maupun aksi kelompok ekstremis.

Sekitar 390.000 warga Palestina tinggal di Yerusalem Timur dan setiap hari terepresi oleh pendudukan ilegal Israel. Sebagian besar sekolah di wilayah tersebut masih menggunakan kurikulum Palestina, meskipun pemerintah Israel terutama di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terus meningkatkan tekanan agar sekolah-sekolah Palestina menerapkan kurikulum Israel.

Dalam beberapa pekan terakhir, Sukkot juga melakukan sejumlah kunjungan dan penggerebekan ke sekolah-sekolah Arab di wilayah Israel dengan alasan memantau kurikulum. Langkah tersebut memicu protes dari para orang tua murid yang menuduhnya melakukan provokasi serta berupaya melemahkan pendidikan masyarakat Arab.

Penggerebekan sekolah itu terjadi di tengah meningkatnya serangan kelompok sayap kanan Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur menjelang pemilihan umum Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober.

Warga Palestina menginginkan Yerusalem Timur menjadi ibu kota negara Palestina di masa depan, mengacu pada berbagai resolusi internasional yang tidak mengakui pendudukan Israel atas kota tersebut sejak 1967 maupun aneksasi yang dilakukan Israel pada 1980.

(rds) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]