Ini Pusat Nuklir Iran yang Dibidik Trump, Hasil Kerjasama Rusia-China

CNN Indonesia
Rabu, 15 Jul 2026 13:51 WIB
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Busher Iran adalah hasil kerjasama dengan Rusia dan China.
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Busher Iran adalah hasil kerjasama dengan Rusia dan China. (HAMED MALEKPOUR / FARS NEWS AGENCY / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan serangan Amerika Serikat selanjutnya akan menargetkan sejumlah fasilitas nuklir di Iran.

Trump memberikan ultimatum kepada Iran bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir dan jembatan akan menjadi target pada fase terakhir kecuali Teheran setuju untuk kembali bernegosiasi dengan AS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemimpin Partai Republik itu kemudian mengatakan bahwa AS akan terus melakukan serangan "sangat keras" terhadap Iran sampai dia memutuskan "itu sudah cukup".

Dia juga mengatakan AS mengadakan pembicaraan dengan Iran pada Selasa dan mendesak Teheran untuk mencapai kesepakatan.

Merespons ultimatum Trump, Iran langsung mengaktifkan sistem pertahanan udara di Kota Bushehr untuk mematahkan serangan-serangan AS ke fasilitas pembangkit tenaga nuklir negara itu.

Kantor berita Iran, Mehr News, melaporkan bahwa sistem pertahanan udara di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr di Iran selatan telah diaktifkan.

PLTN hasil kerjamasa Rusia-China

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Busher adalah hasil kerjasama dengan Rusia. Menurut Dr Bichara Khader, Profesor Emeritus Université Catholique, Prancis yang mendalami masalah dunia Arab kontemporer, PLTN Bushehr adalah program nuklir Iran yang pada awal tahun 1990-an kekurangan dana, tapi kurang mendapat dukungan negara-negara Barat.

"Saat itulah Iran beralih ke Tiongkok, yang mulai sangat membutuhkan minyak dan gas Iran, dan terutama Rusia, yang dengan senang hati mengambil alih peran negara-negara Barat di negara yang sentralitas strategisnya tidak diragukan lagi," kata Bichara dalam laman European Institute of Mideterranean.

Kerja sama dengan Rusia menghasilkan penyelesaian unit pertama Pembangkit Listrik Bushehr. Kontrak tersebut ditandatangani pada tahun 1999.

Perjanjian kerja sama dengan China, pada bagian lainnya, ditandatangani lebih awal, pada tahun 1990, untuk "transfer teknologi siklus bahan bakar nuklir."

Kerjasama teknologi Iran dengan Rusia dan China ini, justeru membangkitkan kemarahan AS, yang memberlakukan serangkaian sanksi antara tahun 1995 dan 1996 terhadap perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di sektor minyak dan gas Iran.

Ancaman terhadap PLTN ini bukan yang pertama. Kepala perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom, memperingatkan bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr di Iran menghadapi ancaman karena serangan AS-Israel yang terus berlanjut di seluruh negeri.

"Stasiun tersebut jelas berada dalam ancaman, karena ledakan sudah terdengar beberapa kilometer dari garis pertahanan stasiun, garis pertahanan fisiknya," kata CEO Rosatom Alexei Likhachyov kepada media Rusia The Moscow Times.

Dia memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas tersebut dapat menyebarkan kontaminan radioaktif ke daerah sekitarnya.

Likhachyov juga mengatakan bahwa pembangunan dua unit baru di Bushehr, satu-satunya pembangkit nuklir Iran yang beroperasi, ditangguhkan karena serangan udara yang sedang berlangsung, tetapi menambahkan bahwa spesialis Rusia akan tetap berada di lokasi dan melanjutkan pekerjaan.

Rosatom membantu Iran membangun Bushehr, yang terhubung ke jaringan listrik nasional pada tahun 2011 dengan kapasitas 1.000 megawatt.

Moskow dan Teheran sepakat untuk membangun dua reaktor tambahan di Bushehr, dengan konstruksi dimulai pada tahun 2017.

(imf/bac) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]