Warga Albania Kembali Tolak Pembangunan Resor yang Terafiliasi Trump

CNN Indonesia
Minggu, 12 Jul 2026 16:45 WIB
Ribuan warga Albania kembali unjuk rasa di Tirana, Sabtu (11/7). Mereka memprotes resor wisata yang terafiliasi keluarga Presiden AS Donald Trump.
Ribuan warga Albania kembali unjuk rasa di Ibu Kota Tirana, Sabtu (11/7). Mereka memprotes resor wisata yang terafiliasi keluarga Presiden AS Donald Trump. (REUTERS/Florion Goga)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ribuan warga Albania kembali menggelar aksi unjuk rasa di Ibu Kota Tirana pada Sabtu (11/7). Mereka menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama sekaligus memprotes proyek resor wisata yang terafiliasi dengan keluarga Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Berdasarkan laporan AFP, aksi tersebut menjadi demonstrasi malam ke-42 yang digelar secara berturut-turut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain memprotes proyek resor, para demonstran juga menentang konser rapper AS Kanye West atau Ye yang digelar pada hari yang sama. Penampilan Kanye West sebelumnya sudah dilarang di sejumlah Ibu Kota Eropa menyusul pernyataan-pernyataannya yang dinilai antisemit.

Sambil membawa bendera Albania, para demonstran meneriakkan slogan-slogan yang ditujukan kepada Perdana Menteri Edi Rama maupun Kanye West.

Sebelum konser berlangsung, Edi Rama sempat bertemu dengan Kanye West di kantornya. Setelah itu, ia mengunggah video konser tersebut di media sosial dan memberikan penilaian lima bintang.

"Jumlah pasti peserta aksi belum diketahui. Namun, berdasarkan pantauan jurnalis AFP, ribuan orang turun ke jalan setiap malam selama rangkaian demonstrasi berlangsung," tulis laporan AFP, dikutip Minggu (12/7).

Para demonstran menolak proyek pembangunan hotel mewah senilai US$4,6 miliar yang terkait dengan keluarga Trump karena akan dibangun di kawasan lindung Zvernec.

Mereka menilai proyek tersebut mengancam laguna di pesisir Laut Adriatik yang menjadi habitat penting bagi burung-burung migran.

Selain itu, pengembang juga berencana mengubah Pulau Sazan yang tidak berpenghuni, yang pernah menjadi pangkalan militer rahasia era komunis, menjadi destinasi wisata.

Penolakan terhadap proyek itu kemudian berkembang menjadi simbol kekecewaan masyarakat terhadap dugaan korupsi. Massa mendesak Edi Rama mundur karena dinilai tidak transparan dalam proyek tersebut.

Aksi tersebut dijuluki "Revolusi Flamingo" karena kawasan yang akan dibangun merupakan cagar alam yang menjadi tempat singgah burung flamingo. Banyak peserta demonstrasi membawa replika burung flamingo berbahan plastik.

Para pengkritik proyek juga mempertanyakan legalitas proses pembelian lahan oleh para investor.

Sejumlah warga setempat mengeklaim lahan tersebut merupakan milik mereka berdasarkan dokumen kepemilikan yang telah dimiliki selama puluhan tahun.

Kantor Kejaksaan Antikorupsi Albania (SPAK) kini telah membuka penyelidikan terkait proyek tersebut.

SPAK menyelidiki proses perolehan dan perpindahan kepemilikan lahan di kawasan lindung Zvernec, termasuk alasan nilai lahannya melonjak dari 5,5 juta euro menjadi 122 juta euro hanya dalam beberapa bulan.

(dhz/rti) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]