Kehabisan Anggaran, Militer Israel Mulai Kurangi Pasukan Besar-besaran

CNN Indonesia
Sabtu, 11 Jul 2026 18:20 WIB
Israeli army soldiers gather near infantry-fighting vehicles (IFVs) at a position along the Israel-Gaza border fence on October 10, 2025. Gaza's civil defence agency said October 10 that Israeli forces have begun pulling back from parts of the territ
Israel mulai kurangi pasukan cadangan imbas kekurangan anggaran. Foto: AFP/JACK GUEZ
Jakarta, CNN Indonesia --

Militer Israel memulai pengurangan jumlah pasukan cadangan secara besar-besaran, beberapa hari usai laporan media menyebut militer tengah menghadapi tekanan keuangan.

Media Israel Yedioth Ahronoth mengatakan langkah tersebut mencerminkan meredanya pertempuran di berbagai front.

"Sesuai dengan penilaian operasional terbaru, telah diputuskan untuk mengurangi pasukan cadangan dan jumlah pemberitahuan panggilan darurat Order 8," demikian laporan surat kabar Yedioth Ahronoth, mengutip pernyataan militer Israel, seperti dilansir Middle East Monitor

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Order 8 merupakan mekanisme mobilisasi darurat yang memungkinkan tentara Israel untuk dengan cepat memanggil pasukan cadangan selama perang atau keadaan darurat nasional lainnya. Sistem ini telah banyak digunakan sejak dimulainya perang genosida Israel terhadap Palestina di Jalur Gaza pada 8 Oktober 2024.

Militer Israel mengatakan pengurangan pasukan darurat ini akan diimplementasikan secara bertahap dan bervariasi menurut sektor operasional, berdasarkan penilaian yang sedang berlangsung.

Laporan mencatat bahwa pasukan cadangan telah diberi tahu minggu lalu bahwa militer akan secara signifikan mengurangi jumlah pemberitahuan panggilan darurat Order 8.

Salah satu unit bahkan telah memberi tahu pasukan cadangannya bahwa jumlah personel akan dikurangi sekitar 50 persen mulai minggu depan. Pasukan cadangan juga diberitahu tentang pengurangan aktivitas yang tidak penting dan tidak dianggap perlu untuk kebutuhan operasional.

Pengurangan ini akan memengaruhi beberapa unit dan sektor operasional, termasuk lebih dari sekadar unit pertahanan regional yang bertanggung jawab atas keamanan lokal, kata surat kabar tersebut.

Mengutip pejabat militer, surat kabar itu mengatakan pengurangan tersebut mencerminkan penurunan kebutuhan operasional untuk beberapa pasukan cadangan karena aktivitas militer menurun dan misi-misi tertentu yang direncanakan tidak lagi dianggap perlu.

Tentara Israel sangat bergantung pada pasukan cadangan sejak melancarkan perang di Jalur Gaza pada tahun 2023, dengan serangan militer kemudian meluas ke Lebanon, Yaman, dan Iran.

Israel Hayom melaporkan pada 5 Juli bahwa tentara sedang bersiap untuk melepaskan ribuan pasukan cadangan pada akhir bulan di tengah meningkatnya tekanan keuangan pada militer. Menurut surat kabar tersebut, jumlah pasukan cadangan yang bertugas aktif diperkirakan akan menurun dari sekitar 60.000 menjadi sekitar 50.000.

Pengurangan ini terjadi di tengah krisis pendanaan yang mendalam yang dihadapi oleh lembaga militer Israel, menyusul peningkatan tajam dalam pengeluaran operasional, yang menyebabkan defisit anggaran yang diperkirakan mencapai puluhan miliar shekel.

Media berbahasa Ibrani, termasuk Yedioth Ahronoth dan Calcalist, mengatakan bahwa pemotongan tersebut mencakup pengurangan pasukan cadangan yang ditugaskan untuk sistem pertahanan regional, termasuk personel yang bertugas menjaga permukiman di sekitar Gaza dan di Tepi Barat yang diduduki, serta penurunan jumlah personel di markas militer.

Pemotongan ini juga terjadi di tengah perselisihan antara Kementerian Pertahanan dan Kementerian Keuangan Israel mengenai besarnya anggaran pertahanan.

(dna) Add as a preferred
source on Google