Iran Sebut Trump Berupaya Melemahkan Nota Kesepahaman soal Hormuz
Presiden Donald Trump mengatakan nota kesepahaman (MoU) Amerika Serikat dan Iran cuma buang-buang waktu dan sudah berakhir menyusul serangan mereka ke militer negara itu di Selat Hormuz.
Iran menilai Trump sengaja berupaya melemahkan Mou AS dan Teheran terkait Selat Hormuz.
"Buat saya itu sudah berakhir," kata Trump di sela konferensi tingkat tinggi (KTT) NATO di Ankara, Rabu (8/7), dikutip Al Jazeera.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat Juga : |
Dia lalu berujar, "Itu cuma menghabiskan waktu membuat kesepakatan dengan mereka."
Pernyataan itu muncul di tengah serangan Amerika Serikat ke militer Iran di Selat Hormuz.
Lalu bagaimana nasib MoU yang sudah disepakati kedua negara ini?
MoU itu ditandatangani pada awal Juni, di lokasi yang berbeda tanpa tatap muka. Kesepakatan ini mencakup penghentian pertempuran dari seluruh front dan berjanji tak memulai serangan dalam bentuk apapun.
Menurut kesepakatan itu pula, AS-Iran diberi waktu 60 hari untuk bernegosiasi guna mengakhiri perang.
Perwakilan Iran, melalui Kedutaan Besar mereka di Jepang menyatakan AS "terus berupaya melemahkan MoU."
Kedutaan menyebut tindakan itu mencederai poin ke-5 dalam MoU yang menyatakan Iran punya kendali atas Selat Hormuz.
Washington, lanjut mereka, juga melakukan hal serupa seperti di Lebanon yang melanggar poin pertama MoU.
"Kesabaran Iran atas tindakan AS semakin menipis. AS sudah benar-benar salah perhitungan dan pengaruh geopolitik bukan lah keistimewaan," lanjut mereka.
Direktur Arab Perspective Institute Zeidon Alkinani mengatakan pernyataan Trump belum tentu betul-betul jadi tindakan nyata.
"Trump adalah sosok yang sangat tak biasa dalam sejarah politik dunia, terutama seseorang yang berada di posisi politik yang begitu sensitif," kata Alkinani kepada Al Jazeera.
"Terjadi transformasi besar-besaran, transformasi yang surealis dalam bahasa dan retorika diplomasi, dibandingkan dengan apa yang selama ini kita kenal," imbuh dia.
Lebih lanjut, Alkinanti mengatakan rakyat Iran sepenuhnya menyadari Trump adalah orang yang sangat reaksioner.
"Dan banyak komentarnya tak selalu diterjemahkan menjadi tindakan permanen," kata Alkinanti.
Alkinanti lalu mencontohkan Trump menyerukan perubahan rezim dan enggan bernegosiasi dengan Iran. Namun, akhirnya dia lunak juga dan bersedia ke meja perundingan.
Trump juga berulang kali sesumbar akan menggempur Iran lagi jika mereka enggan mengakhiri program nuklirnya, tetapi pernyataan itu lagi-lagi hanya gertakan.
Iran di sisi lain, sudah hafal sikap Trump. Mereka juga punya sikap yang tegas. Teheran tak akan mau bernegosiasi jika AS terus mengancam.
(isa/bac) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

