Trump Pulang Tangan Kosong usai 'Dijauhi' Sekutu di KTT NATO

CNN Indonesia
Kamis, 09 Jul 2026 08:20 WIB
U.S. President Donald Trump attends an event at Custer Farms in Chippewa Falls, Wisconsin, U.S., June, 5, 2026. REUTERS/Nathan Howard
Presiden AS Donald Trump meninggalkan KTT NATO dengan tangan kosong setelah negara sekutunya di Eropa menjaga jarak terhadap perang AS vs Iran. (Foto: REUTERS/Nathan Howard)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump meninggalkan konferensi tingkat tinggi (KTT) NATO dengan tangan kosong setelah negara sekutunya di Eropa menjaga jarak terhadap perang AS vs Iran.

CNBC melaporkan Trump meninggalkan pertemuan puncak pada Rabu (8/7) tanpa pengumuman komitmen aliansi untuk membantu mengatasi konflik Timur Tengah tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama dua hari berada di Ankara, Turki, Trump sendiri sudah memberi sinyal akan keresahannya terhadap aliansi dengan melontarkan kata-kata keras terhadap keengganan negara-negara sekutu untuk terlibat dalam konflik Iran.

"Saya tidak senang dengan NATO, karena mereka tidak mau membantu kami menghadapi negara sponsor teror nomor satu, yaitu Iran," kata Trump saat tampil bersama pemimpin NATO Mark Rutte.

NATO telah menjadi sasaran kritik pedas Trump buntut keengganan mereka membantu AS melawan Iran. Blok pertahanan ini juga menjadi bulan-bulanan Trump di masa jabatannya yang pertama karena kurangnya pengeluaran pertahanan mereka untuk NATO.

Trump berulang kali mengatakan AS sebenarnya tidak membutuhkan bantuan apa pun dari NATO. Permintaannya terkait Iran, klaimnya, dilakukan sebagai ujian loyalitas.

"Saya benar-benar sedang menguji, saya ingin melihat apakah mereka akan hadir atau tidak," kata Trump pada Rabu (8/7) bersama Rutte.

Tampaknya menurut Trump, negara-negara Eropa telah gagal dalam "ujian" ini. Sebab Trump berkali-kali melontarkan akan mengurangi jumlah pasukan AS yang ditempatkan di Eropa.

Trump bahkan juga mengancam akan menarik AS sepenuhnya dari aliansi pertahanan yang berusia 77 tahun tersebut.

Para pemimpin NATO, terutama Rutte, telah mencoba menenangkan Trump dengan memuji-muji sang Presiden dan Amerika Serikat. AS merupakan anggota paling kuat dalam aliansi tersebut.

Dukungan berkelanjutan AS sangat penting bagi kekuatan blok, terutama dalam hal efektivitas Pasal 5. Pasal ini berisi komitmen bahwa serangan terhadap satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Ketika Trump ditanya wartawan mengenai kesediaan AS membantu negara-negara Eropa jika diserang, ia memberikan jawaban tak langsung.

"Mereka tidak membantu kami. Kami tidak butuh bantuan, tetapi seandainya kami ingin bantuan (seharusnya mereka membantu)," kata Trump.

Para kepala negara Eropa secara terbuka menyampaikan kata-kata sopan bahkan ketika Trump mengeluh tentang mereka.

Para pemimpin Eropa juga mengatakan kepada CNBC bahwa mereka memandang ancaman Trump tentang penarikan pasukan sebagai ancaman kosong.

Presiden Polandia Karol Nawrocki mengatakan kepada CNBC bahwa "Saya yakin tentara Amerika di Polandia akan tetap tinggal ... bersama dengan tentara Polandia, kita akan mengamankan Eropa tengah-timur dan perbatasan NATO."

"Presiden Trump adalah teman baik Republik Polandia. Kami memiliki hampir 10.000 tentara Amerika di Polandia. Kami ingin mendirikan kamp permanen untuk tentara Amerika di Polandia," lanjutnya.

Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre juga mengaku tak melihat potensi Trump benar-benar ingin menarik pasukan dari Eropa.

"Saya tidak merasa AS akan menarik semua pasukannya dari Eropa," ucapnya.

Menurut pakar geopolitik, semestinya Trump mengambil pendekatan yang lebih baik terhadap NATO, sebab aliansi tersebut dapat sangat menguntungkan AS dalam perang terbarunya melawan Iran.

"Saya pikir presiden akan mendapat manfaat jika mencoba meminta para pemimpin di Eropa dan Teluk Persia untuk memberikan dampak negatif pada perekonomian Iran," kata profesor Universitas Harvard sekaligus manta duta besar AS untuk NATO, Nicholas Burns.

(blq/rds) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]