Digosipkan Renggang, Netanyahu Curhat Kondisi Hubungan dengan Trump

CNN Indonesia
Selasa, 07 Jul 2026 10:20 WIB
US President Donald Trump (R) and Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu shake hands as they arrive to speak to journalists during a joint press conference at Trumps Mar-a-Lago residence in Palm Beach, Florida, on December 29, 2025. US President D
PM Israel Benjamin Netanyahu blak-blakan cerita soal hubungannya dengan Presiden Donald Trump ketika keduanya dikabarkan renggang imbas perang dengan Iran. (Foto: AFP/JIM WATSON)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan hubungannya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump "baik-baik saja" menyusul ketegangan antara keduanya yang belakangan terasa terkait perbedaan pendekataan soal perang dengan Iran.

Dalam wawancara dengan Fox News pada Senin (6/7), Netanyahu melontarkan pujian kepada Amerika dan Trump. Ia bahkan membantah laporan yang menyebut ada keretakan hubungan di antara dia dan Trump terkait gencatan senjata dengan Iran dan serangan Israel di Lebanon.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Amerika telah menjadi kekuatan besar bagi kebaikan, dan tanpa Amerika tidak akan ada demokrasi di dunia, serta tidak akan ada kebebasan di dunia," ujarnya.

Netanyahu bahkan menambahkan dirinya dan Trump memiliki pandangan yang sejalan dalam "hampir segala hal".

Ia mengatakan perbedaan pendapat antara Amerika Serikat dan Israel memang bisa terjadi, namun kedua negara tetap merupakan "sekutu teladan".

"Hubungan saya dengan presiden baik-baik saja, dan kami memiliki cara untuk menyelesaikan perbedaan sebagai sekutu yang saling menghormati," katanya seperti dikutip Al Jazeera.

Dalam kesempatan itu, Netanyahu juga mengonfirmasi ia akan segera kembali mengunjungi Amerika Serikat, namun mengatakan belum ada tanggal yang ditetapkan untuk kunjungan tersebut.

Pernyataannya ini disampaikan di tengah kritikan anggota kabinet Israel terhadap nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss yang menyerukan gencatan senjata regional, termasuk di Lebanon.

Kritikan pejabat Israel terhadap MoU AS-Iran bahkan sampai membuat Wakil Presiden AS JD Vance sempat blak-blakan menegur Israel.

JD Vance memperingatkan Israel tak terus mengkritik langkah AS terhadap Iran dan tidak menjauhkan diri dari "satu-satunya sekutu kuat" yang masih dimiliki negara Zionis itu di dunia.

Pernyataan tersebut disampaikan Vance di tengah meningkatnya ketegangan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump.

Vance meminta anggota kabinet Netanyahu untuk "bangun dan menghadapi kenyataan".

"Donald J. Trump adalah satu-satunya kepala negara di seluruh dunia yang saat ini bersimpati kepada Negara Israel, dan kebetulan ia juga merupakan pemimpin negara adidaya dunia," kata Vance kepada wartawan dalam pengarahan di Gedung Putih.

"Jika saya berada di kabinet pemerintah Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang masih saya miliki di seluruh dunia," lanjutnya seperti dikutip AFP.

Presiden Trump juga sempat blak-blakan mengaku frustrasi menghadapi Netanyahu yang dinilainya mempersulit perundingan AS-Iran karena Israel terus melancarkan serangan ke Lebanon, tepatnya untuk menargetkan milisi Hizbullah.

Pasalnya, gencatan senjata Israel dan Hizbullah di Lebanon menjadi salah satu syarat perundingan AS-Iran terus berlangsung.

Israel menolak menarik pasukannya dari Lebanon dengan bersikeras bahwa mereka berhak membombardir negara tersebut kapan saja sebagai respons terhadap apa yang disebut sebagai "ancaman".

Serangan Israel di Lebanon selatan pada Senin (6/7) bahkan menewaskan empat warga sipil, termasuk seorang guru.

(rds) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]