AS Curiga Rencana Licik Israel Mau Bunuh Menlu-Pejabat Tinggi Iran
Amerika Serikat meyakini Israel berencana membunuh negosiator Iran, di tengah negosiasi kedua negara itu untuk mengakhiri perang.
Sejumlah sumber mengatakan kekhawatiran AS meningkat tajam selama negosiasi gencatan senjata. Mereka cemas kalau-kalau Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dibunuh Israel.
Sejumlah sumber juga menyebut begitu khawatirnya AS sampai-sampai mereka meminta negara-negara di Timur Tengah untuk mewanti-wanti Iran soal rencana pembunuhan Israel ke Araghchi dan Ghalibaf, demikian dikutip New York Times, Kamis (2/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Araghchi dan Ghalibaf merupakan tokoh kunci saat Iran bernegosiasi dengan AS maupun negara di kawasan Timur Tengah untuk mencapai gencatan senjata hingga perdamaian abadi.
AS dan Iran sempat mengumumkan gencatan senjata pada April selama dua pekan yang kemudian diperpanjang tanpa batas waktu. Di tengah masa gencatan ini, AS masih kerap menggempur militer Iran di dekat Selat Hormuz.
Kemudian pada awal Juni, AS dan Iran meneken nota kesepahaman (MoU) yang diharapkan menjadi kerangka untuk betul-betul mengakhiri perang. MoU itu mencakup kedua negara diberi waktu 60 hari untuk negosiasi.
Para pejabat AS mengakui kedua negosiator Iran itu bisa menjadi target sah bagi Israel selama fase intens perang.
Sejak awal perang, Israel memang menargetkan sejumlah pejabat Iran. Namun, saat perundingan sedang diupayakan pejabat AS meyakini bahwa membunuh negosiator Iran akan mengakhiri pembicaraan hingga menyulut pertempuran.
Pada April lalu, Wall Streel Journal melaporkan Araghchi dan Gahlibaf masuk dalam daftar yang akan dibunuh Israel.
Salah satu pejabat AS dan negara kawasan mengatakan pemerintahan Trump mengetahui Ghalibaf masuk dalam daftar. Mereka kemudian meminta Israel untuk menahan diri.
Israel tampaknya memang berambisi mengincar ketua parlemen itu. Tiga pejabat senior Iran mengatakan Ghalibaf hampir tewas dalam operasi brutal Israel di konflik ini dan dalam perang 13 Hari pada Juni tahun lalu. Mereka mengatakan Ghalibaf sempat terjebak di reruntuhan tetapi akhirnya selamat.
"Hari ini Bapak Ghalibaf dan Bapak Araghchi, serta anggota tim negosiasi lainnya, telah mempertaruhkan nyawa mereka dengan mengetahui risiko keamanan yang sangat besar, dan ini disebut pengorbanan nyata, bukan manuver politik," kata anggota parlemen Iran Mohsen Zanganeh kepada media lokal pada akhir April setelah pertemuan di Islamabad.
Setelah sepakat melakukan negosiasi, Iran mengambil langkah-langkah pencegahan yang bertujuan untuk mempersulit Israel menyerang pejabat tinggi.
Pada April lalu, Ghalibaf dijadwalkan melakukan perjalanan ke Islamabad untuk bertemu dengan Wakil Presiden AS JD Vance. Namun, para pejabat keamanan Iran khawatir Israel akan menggunakan kesempatan itu untuk membunuh dia atau Araghchi guna menggagalkan pembicaraan tersebut.
Para sumber mengatakan pihak Iran lantas meminta jaminan dari Amerika Serikat, melalui perantara Pakistan dan Qatar, bahwa Israel tidak akan melakukan operasi rahasia apa pun yang menargetkan delegasi Iran.
Jet tempur Pakistan mengawal pesawat-pesawat Iran yang membawa delegasi lebih dari 70 warga Iran dari perbatasan Iran ke Islamabad dan kembali lagi setelah sesi berakhir.
Namun, saat mereka hendak kembali ke Iran ancaman itu muncul. Pasukan keamanan Iran memberitahu pesawat yang membawa Ghalibaf bahwa mereka telah menerima informasi intelijen soal rencana Israel menyerang pesawat tersebut.
Pasukan keamanan Iran juga melaporkan dua jet tempur Israel telah memasuki wilayah udara Iran dari perbatasan baratnya dekat Irak. Penasihat senior Ghalibaf, Mahdi Mohammadi, yang ikut mendampi ke Islamabad, membenarkan keterangan soal situasi itu.
Mohammadi dan dua pejabat lain mengatakan pesawat yang mengangkut Ghalibaf lalu melakukan pendaratan darurat di kota Mashhad, bandara terdekat Iran dengan perbatasan Pakistan, dan delegasi Iran melakukan perjalanan darat sekitar delapan jam kembali ke Teheran.
AS dan sekutunya Israel menggempur Iran habis-habisan pada akhir Februari lalu. Imbas operasi brutal itu, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat top Iran lain tewas.
(isa/dna) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

