British Museum Hapus Kata Palestina usai Dilobi Pendukung Israel

CNN Indonesia
Jumat, 03 Jul 2026 12:05 WIB
Bristih Museum menghapus kata Palestine (Palestina) dan Palestinian dari koleksi mereka usai dilobi pendukung Israel selama berbulan-bulan.
Bristih Museum menghapus kata Palestine (Palestina) dan Palestinian (warga Palestina) dari koleksi mereka usai dilobi pendukung Israel selama berbulan-bulan. (AFP/NICOLAS ASFOURI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bristih Museum menghapus kata Palestine (Palestina) dan Palestinian (warga Palestina) dari koleksi mereka usai dilobi pendukung Israel selama berbulan-bulan.

Namun, British Museum membantah telah melakukan penghapusan itu.

"Telah dilaporkan bahwa British Museum telah menghapus istilah Palestina dari pajangan," kata juru bicara kepada Middle East Eye, Kamis (2/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Itu sama sekali tidak benar. Kami terus menggunakan istilah Palestina di berbagai galeri, baik kontemporer maupun historis," imbuh dia.

Museum ini sempat menuai kritik tajam setelah mengubah teks penjelasan soal bangsa dinasti Hyksos yang mulanya disebut berasal dari Palestina diganti dengan berasal dari Kanaan. Mereka juga menghapus kalimat Israeli occupation (Pendudukan Israel kuno) karena dianggap mengandung muatan politis.

Selain itu, British Museum mengubah peta modern di bagian pintu masuk galeri Levant Kuno dari kata Palestina Modern dihapus dari daftar negara dan diganti dengan nama wilayah Gaza dan Tepi Barat.

British Museum saat itu membela diri bahwa perubahan dilakukan sebagai bagian uji coba audiens apakah kata itu netral dan dipahami.

Namun, investigasi Middle East Eye menemukan hal yang berbeda. Museum tak pernah melakukan uji coba atau riset terhadap audiens. Saat dimintai data hasil riset itu mereka mengatakan tak punya.

MEE melaporkan penghapusan kata Palestina dilakukan karena desakan dari pendukung Israel termasuk kelompok pengacara pro-Israel di Inggris (UKLFI).

MEE menganalisis dua set email internal yang sudah banyak disensor dan mencocokkan dengan pengaduan daring untuk mengidentifikasi beberapa aktivis dan tokoh publik yang melobi museum tersebut.

Para pengadu termasuk mantan editor hiburan Daily Mail, seorang sejarawan terkemuka, dan Dewan Perwakilan Yahudi Inggris.

Keluhan-keluhan tersebut diajukan, dan perubahan-perubahan disetujui oleh museum, lebih dari 14 bulan sebelum intervensi yang dipublikasikan UKLFI.

Para pengadu berpendapat bahwa penyertaan istilah "pendudukan Israel" dalam teks salah satu pajangan tentang bangsa Fenisia, pada era lebih dari 2.000 tahun yang lalu, akan menimbulkan kebencian dan "membenarkan serangan terhadap orang Yahudi".

Tokoh-tokoh terkemuka juga berupaya memengaruhi direktur museum Nick Cullinan dan ketua dewan pengawas sekaligus eks menteri keuangan Inggris George Osborne.

Dalam satu kasus, keputusan museum untuk menanggapi pengaduan pribadi dari Dewan Perwakilan dibuat kurang dari lima jam setelah pengaduan tersebut diedarkan secara internal.

Dalam email yang mendesak tanggapan cepat terhadap satu pengaduan, seorang staf museum meminta orang lain untuk "sangat memperhatikan" peringatan pertama serangan 7 Oktober.

Namun, tidak ada perhatian yang ditunjukkan kepada warga Palestina yang menghadapi apa yang disebut PBB sebagai genosida, serta pemusnahan budaya.

Cullinan juga berusaha meyakinkan sejarawan terkemuka William Dalrymlpe yang terkejut dengan perubahan tersebut. Saat itu, dia mengatakan penghapusan dilakukan selama "penyegaran galeri rutin."

Email-email tersebut juga mengungkapkan perbedaan pendapat internal staf bahwa posisi museum itu "kontradiktif."

Dalam upayanya untuk meredakan kemarahan yang semakin meningkat di museum, Cullinan juga mengatakan kepada Dalrymple bahwa dia "tidak tahu apa-apa" tentang intervensi UKLFI pada Februari 2026.

Menanggapi bukti-bukti itu, Wakil direktur Kampanye Solidaritas Palestina (PSC) Peter Leary mengatakan insiden ini menunjukkan kelompok-kelompok pro-Israel secara bersamaan berupaya untuk menghilangkan semua penyebutan tentang masa lalu Palestina.

"Sangat disayangkan, kampanye untuk menghapus sejarah Palestina ini tampaknya terjadi di tengah genosida Israel di Gaza, termasuk penghancuran yang disengaja terhadap situs-situs bersejarah, universitas, dan lembaga budaya, serta rumah-rumah, sekolah, dan rumah sakit," kata Leary.

(isa/bac) Add as a preferred
source on Google