Tanggapi Serangan Iran, Wapres Vance: Kekerasan Dibalas Kekerasan

CNN Indonesia
Sabtu, 27 Jun 2026 08:06 WIB
Wakil Presiden AS JD Vance
Wakil Presiden AS JD Vance memperingatkan bahwa Iran akan kembali tergempur jika membalas serangan AS. (Getty Images via AFP/POOL)
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance memperingatkan bahwa Iran akan kembali tergempur jika membalas serangan AS.

"Iran menandatangani perjanjian gencatan senjata. Kami telah menghormatinya. Jika mereka memiliki perbedaan pendapat tentang bagaimana MoU diterapkan, mereka dapat menghubungi kami. Tetapi, kekerasan akan dibalas dengan kekerasan," tulis Vanci dalam cuitannya di platform X, Jumat (26/6), melansir AFP.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cuitan tersebut dikeluarkan untuk merespons serangan Iran terhadap kapal kargo asal Singapura yang melintasi Selat Hormuz.

Sebagai peringatan, AS kembali menyerang wilayah Iran pada Jumat (26/6). Sejumlah lokasi penyimpanan rudal dan drone, serta fasilitas radar di pesisir pantai menjadi target penyerangan.

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Iran meluncurkan setidaknya empat drone ke arah kapal yang melintas di Selat Hormuz. Beberapa drone berhasil dicegat, tapi salah satu drone mengenai kapal kargo asal Singapura.

Dalam akun Truth Social-nya, Trump menggambarkan serangan itu sebagai 'pelanggaran bodoh' terhadap perjanjian gencatan senjata.

Sebagai balasan, Iran kembali menyerang lokasi-lokasi milis AS di kawasan Teluk pada Sabtu (27/6).

"Jika agresi tersebut terulang, tanggapan kami akan lebih luas daripada ini," ujar Korps Garda Revolusi Iran.

Aksi saling serang itu terjadi usai kedua negara meneken nota kesepahaman (MoU) pada 17 Juni lalu. MoU bertujuan untuk menghentikan perang di kawasan.

Trump mengklaim, MoU menjadi bentuk penyerahan Iran tanpa syarat.

MoU itu mencakup penghentian pertempuran di seluruh front, termasuk Lebanon, pencairan aset Iran yang dibekukan, pencabutan blokade militer AS di Selat Hormuz, hingga perizinan ekspor minyak mentah.

Sementara bagi AS, keuntungan itu mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, persediaan pasokan minyak, dan komitmen Iran tak membuat senjata nuklir.

(asr) Add as a preferred
source on Google