Iran Tolak Temui Trump Meski Ngaku-ngaku Punya Hubungan Baik

CNN Indonesia
Sabtu, 06 Jun 2026 15:35 WIB
U.S. President Donald Trump points his finger during a cabinet meeting in the Cabinet Room at the White House, in Washington, D.C., U.S., May 27, 2026. REUTERS/Evan Vucci
Trump juga mengatakan akan menjadi sebuah kehormatan baginya jika bisa bertemu dengan pemimpin Iran tersebut. (FOTO:REUTERS/Evan Vucci)
Jakarta, CNN Indonesia --

Iran menutup peluang pertemuan antara pemimpin tertinggi mereka, Mojtaba Khamenei dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di tengah upaya perundingan damai kedua negara.

Penasihat militer Khamenei Mohsen Rezaei menolak kemungkinan pertemuan tersebut. Ia menyebut pertemuan Mojtaba dan Trump tidak mungkin terjadi dalam situasi saat ini.

"Ini tidak akan terjadi. Saat ini kami masih berada pada tahap pertama negosiasi dan Tuan Trump telah membawa negosiasi ke jalan buntu. Ini tidak akan terjadi," kata Rezaei dalam pernyataan seperti yang dikutip dari CNN, Sabtu (6/6).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pernyataan itu merespons ucapan Trump yang sebelumnya menyebut ia dan Mojtaba Khamenei tampak memiliki hubungan baik. Trump juga mengatakan akan menjadi sebuah kehormatan baginya jika bisa bertemu dengan pemimpin Iran tersebut.

Penolakan Iran muncul saat hubungan Teheran dan Washington kembali memanas. Seorang pejabat tinggi Iran menyebut peluang kesepakatan damai masih bergantung pada sikap pemerintahan Trump, terutama terkait pencairan aset Iran senilai US$24 miliar yang dibekukan.

Pejabat itu juga memperingatkan potensi perang yang lebih luas jika perundingan yang macet tidak segera menghasilkan kesepakatan.

Ketegangan meningkat setelah pasukan AS mencegat rudal dan drone yang diluncurkan Iran ke arah Selat Hormuz dan kawasan Teluk. Sirene peringatan juga sempat berbunyi di Kuwait dan Bahrain.

Militer AS turut menyerang sejumlah lokasi pesisir di Iran. Media Iran menyebut tembakan Teheran merupakan langkah peringatan yang kemungkinan berkaitan dengan keberadaan kapal Angkatan Laut AS di kawasan tersebut.

Rezaei memperingatkan Iran dapat memperluas perang ke luar Teluk Persia jika AS kembali melanjutkan konflik. Operasi militer disebut bisa meluas dari Selat Hormuz ke Samudra Hindia, Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah, hingga Laut Mediterania.

Di sisi lain, konflik juga merembet ke Lebanon. Lebih dari 20 orang tewas pada Jumat (5/6) akibat serangan Israel di Lebanon, menurut laporan media pemerintah Lebanon.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi turut membantah tudingan Presiden Lebanon Joseph Aoun yang menyebut Teheran menggunakan Lebanon sebagai alat tawar dalam perang dengan AS dan Israel.

"Kalau Lebanon adalah alat tawar bagi Iran, kami sudah mencapai kesepakatan sejak lama," kata Araghchi.

Pernyataan Iran soal tertutupnya peluang pertemuan Mojtaba dan Trump menunjukkan jalan diplomasi kedua negara masih buntu. Di satu sisi, Washington dan Teheran masih membahas peluang damai.

[Gambas:Video CNN]

(anm/ins) Add as a preferred
source on Google