Media Asing Soroti Rupiah Loyo, Terparah dalam Sejarah RI

CNN Indonesia
Kamis, 04 Jun 2026 16:05 WIB
Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 195 poin atau 1,33 persen ke level Rp14.415 per dolar AS pada akhir perdagangan hari ini.
Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat 0,039 poin atau 0,04 persen ke level 97,869 pada pukul 14.53
Ilustrasi nilai tukar rupiah. Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah media internasional menyoroti jebloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang pada Kamis (4/6) ini menyentuh Rp18.000 per dolar AS.

Media Qatar Al Jazeera menyoroti kondisi ini, dengan menggarisbawahi bahwa hal tersebut merupakan yang terendah sepanjang sejarah Indonesia.

"Rupiah Indonesia telah mencapai level terlemahnya terhadap dolar AS, menembus ambang batas psikologis 18.000 di tengah melonjaknya biaya energi," demikian laporan Al Jazeera.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Al Jazeera memahami bahwa kondisi ini dipicu oleh perang AS-Israel vs Iran, mengingat Republik Indonesia (RI) turut mengimpor energi bersih, meski punya cadangan minyak dan gas yang melimpah.

"Tekanan yang dihasilkan pada neraca perdagangan telah berkontribusi pada arus keluar modal dan pelemahan mata uang," demikian laporan Al Jazeera.

Media Hong Kong Asia Times juga menyoroti kondisi serupa sambil menekankan bahwa hal ini terjadi karena pemerintah dan Bank Indonesia "bertindak terlalu lambat, ragu-ragu, dan tidak konsisten" terhadap situasi.

Dalam artikel berjudul "Indonesia's rupiah rout is not just about the dollar", Asia Times mencermati bahwa penurunan tajam nilai tukar rupiah ini, yang sudah terjadi selama dua bulan terakhir, menunjukkan adanya perihal serius, yaitu fenomena kelebihan beban ekstrem.

"Keruntuhan mata uang tersebut tidak lagi mencerminkan fundamental daya beli yang mendasarinya, tetapi mencerminkan ketidakseimbangan pasar yang didorong oleh kepanikan, pelarian modal besar-besaran, dan kekurangan likuiditas dolar akut di pasar spot domestik," tulis Asia Times.

"Krisis yang sedang berkembang ini diperparah oleh keterlambatan respons Bank Indonesia terhadap meningkatnya tekanan pasar. Bank sentral terlalu terlena dengan moderasi inflasi domestik, yang turun menjadi 2,42 persen pada April 2026," lanjut Asia Times.

Asia Times mengamati bahwa keputusan Bank Indonesia mengambil instrumen non-suku bunga untuk menstabilkan rupiah gagal menghentikan penurunan nilai mata uang tersebut.

Senada, media Singapura The Straits Times juga mewartakan kondisi rupiah yang mencapai rekor terendah baru bersamaan dengan rontoknya saham-saham Indonesia.

The Straits Times memahami bahwa hal ini menggarisbawahi kekhawatiran investor bahwa harga minyak yang terus tinggi membebani keuangan negara.

"Dalam beberapa minggu terakhir, kekhawatiran tentang pengawasan pemerintah yang lebih ketat terhadap sektor komoditas utama juga telah melemahkan sentimen," demikian laporan The Straits Times.

Menurut media tersebut, pengumuman Presiden Prabowo Subianto bahwa pemerintah akan mengendalikan langsung ekspor sejumlah komoditas penting turut memicu peningkatan kekhawatiran pasar.

(blq/dna) Add as a preferred
source on Google