Menkeu AS Klaim Bobol Dompet Kripto Iran Senilai Rp17,82 T

CNN Indonesia
Sabtu, 30 Mei 2026 16:20 WIB
Pembobolan dompet digital Iran dilakukan AS dalam bagian misi Operation Economic Fury, yang sudah dimulai sejak Maret 2025.
Pembobolan dompet digital Iran dilakukan AS dalam bagian misi Operation Economic Fury, yang sudah dimulai sejak Maret 2025. (AFP/SAUL LOEB)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent mengklaim pemerintahannya telah menyita aset kripto milik Iran senilai sekitar US$1 miliar atau setara Rp17,82 triliun (kurs Rp17.823 per dolar AS).

Langkah itu disebut bagian dari tekanan ekonomi Washington terhadap Teheran yang dinilai semakin terdesak secara finansial.

"Kami telah menyita sekitar US$1 miliar kripto mereka. Kami langsung mengambil dompet digitalnya," kata Bessent pada Forum Ekonomi Nasional Reagan, Jumat (29/5), melansir CNN.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bessent menyebut penyitaan aset digital tersebut bagian dari kampanye tekanan ekonomi yang dijalankan pemerintah AS terhadap Iran melalui operasi yang disebut 'Operation Economic Fury'.

Menurut dia, kombinasi operasi militer yang berlangsung selama sekitar enam pekan dan tekanan ekonomi yang diterapkan Washington telah membuat kondisi keuangan Iran semakin memburuk.

"Saya pikir setelah lima setengah hingga enam minggu kampanye militer yang sangat berhasil dan Operation Economic Fury, di mana kami benar-benar memutus akses mereka, secara finansial mereka sekarang berada di ujung batas kemampuan mereka," ujarnya.

Bessent bahkan mengklaim sejumlah indikator ekonomi dan sosial di Iran menunjukkan kondisi yang semakin berat. Ia menyebut sebagian pasukan Iran tidak menerima gaji, inflasi melonjak, hingga pemerintah harus menyalurkan kupon pangan kepada masyarakat.

"Sekitar 40 hingga 50 persen pasukan tidak dibayar. Polisi tidak melapor ke kantor. Inflasi mungkin sudah lebih dari 200 persen. Mereka harus membagikan voucher makanan. Mereka juga mematikan internet," katanya.

Program tekanan ekonomi tersebut mulai dijalankan pada Maret 2025. Pemerintah AS mengklaim telah menyita berbagai aset Iran, membekukan rekening perbankan, serta mendorong negara-negara lain membatasi hubungan ekonomi dengan Teheran.

Bessent mengatakan Washington juga bekerja sama dengan sejumlah sekutu di Eropa untuk menyita aset-aset yang diduga terkait pejabat Iran.

"Kami bekerja sama dengan sekutu di seluruh Eropa untuk menyita vila, rumah, dan properti. Itu adalah uang yang dicuri dari rakyat Iran," ujarnya.

Ia menuduh rezim Iran sebelumnya memperoleh US$400 juta hingga US$500 juta atau setara Rp8,9 triliun setiap bulan yang kemudian dibagi-bagikan kepada sejumlah pemimpin di negara tersebut sebelum intervensi dilakukan Departemen Keuangan AS.

Di tengah tekanan ekonomi tersebut, Bessent juga menyinggung proses negosiasi yang masih berlangsung antara AS dan Iran. Menurut dia, dinamika pembicaraan menjadi lebih rumit karena melibatkan berbagai kelompok kekuasaan di dalam Iran.

"Kami tidak melakukan pergantian rezim, tetapi kami mengubah rezimnya. Pemimpin tingkat pertama sudah dilumpuhkan, tingkat kedua juga. Jadi sekarang kami berhadapan dengan tingkat ketiga," ujarnya.

Ia menggambarkan Iran sebagai negara yang memiliki dua pusat kekuatan utama, yakni kelompok ulama yang memimpin pemerintahan teokrasi dan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

"Di satu sisi ada teokrasi yang dipimpin para ulama. Di sisi lain ada otokrasi yang dijalankan IRGC. Dan Anda harus meyakinkan kedua pihak itu," katanya.

Bessent juga menilai Iran melakukan kesalahan besar dengan melancarkan serangan terhadap negara-negara di kawasan Teluk Persia. Menurut dia, langkah tersebut justru mempermudah upaya AS menelusuri hubungan ekonomi Iran di kawasan.

Ia mengklaim sejumlah negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) kini lebih terbuka mengungkap keterkaitan sistem perbankan maupun perdagangan minyak yang berhubungan dengan Iran setelah serangan tersebut terjadi.

"Mereka membuat pekerjaan saya jauh lebih mudah," kata Bessent.

(blq/fea) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]