Trump Dikecam Partai Sendiri soal Kabar Deal Iran: Mimpi Buruk Israel

CNN Indonesia
Minggu, 24 Mei 2026 15:30 WIB
Presiden Donald Trump dan PM Israel Netanyahu
Kabar AS dan Iran yang sepakat berunding dan sebentar lagi mencapai deal untuk mengakhiri perang dianggap menjadi mimpi buruk bagi Israel. (Foto: AFP/JIM WATSON)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya menyampaikan kekhawatiran terhadap rumor Amerika Serikat dan Iran yang sedikit lagi mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang pecah sejak 28 Februari lalu.

Kepada Channel 12, pejabat itu mengatakan bahwa "kesepakatan yang sedang berkembang ini buruk" bagi negaranya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pejabat tersebut menilai kerangka kesepakatan AS-Iran justru menguntungkan Iran dan memberi bukti bahwa Teheran dapat menjadikan Selat Hormuz sebagai senjata strategis yang efektif bahkan "tidak kalah dari senjata nuklir."

Menurut pejabat tersebut, Presiden AS Donald Trump meyakini kesepakatan itu akan berfokus pada aspek ekonomi dan memungkinkan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut tanpa ada pembahasan detail terkait program nuklir Iran.

Dikutip Times of Israel, pejabat itu juga mengatakan hingga kini belum jelas apa yang akan terjadi setelah tahap pertama kesepakatan dijalankan.

Sementara itu di AS sendiri, sejumlah senator senior partai Trump, Partai Republik, melontarkan kritik terhadap syarat-syarat kesepakatan yang dilaporkan tengah dinegosiasikan AS-Iran ini.

Munculnya kritik dari internal partai Trump sendiri terjadi setelah pejabat AS dan Iran sama-sama memberi sinyal bahwa kedua negara semakin dekat mencapai kesepakatan berupa nota kesepahaman untuk mengakhiri perang sekaligus membuka jalan bagi perundingan lanjutan.

Senator Lindsey Graham dari South Carolina, pendukung vokal perang terhadap Iran sekaligus Ketua Komite Anggaran Senat, menyuarakan kekhawatiran terhadap syarat kesepakatan yang memungkinkan rezim Iran tetap bertahan.

Ia mengatakan kesepakatan yang membuat Iran tetap kuat di kawasan akan menjadi "mimpi buruk bagi Israel".

"Jika kesepakatan dicapai untuk mengakhiri konflik Iran karena diyakini Selat Hormuz tidak bisa dilindungi dari terorisme Iran dan Iran masih memiliki kemampuan menghancurkan infrastruktur minyak utama di Teluk, maka Iran akan dipandang sebagai kekuatan dominan yang memerlukan solusi diplomatik," tulis Graham di X.

"Kombinasi antara persepsi bahwa Iran mampu meneror Selat Hormuz secara permanen dan memiliki kemampuan menimbulkan kerusakan besar terhadap infrastruktur minyak Teluk merupakan perubahan besar keseimbangan kekuatan di kawasan dan dalam jangka panjang akan menjadi mimpi buruk bagi Israel," lanjutnya.

Trump sebelumnya menyebut kesepakatan dengan Iran ini akan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz.

Namun, ia tidak menyinggung program nuklir Iran, meskipun berulang kali menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan rezim tersebut harus menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya hingga 60 persen.

Sementara itu, Iran menegaskan bahwa isu nuklir tidak termasuk dalam negosiasi saat ini.

Secara terpisah, Senator Roger Wicker dari Mississippi, Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat, memperingatkan bahwa gencatan senjata dengan Iran akan menjadi "bencana".

"Semua yang dicapai lewat Operasi Epic Fury akan sia-sia!" tulisnya, merujuk pada nama operasi perang Iran versi Washington.

Baik Graham maupun Wicker tidak menyebut nama Trump secara langsung dalam pernyataan mereka.

(rds) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]