Kuba Ancam Trump jika AS Berani Menyerang: Akan Ada Pertumpahan Darah
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengancam akan ada pertumpahan darah jika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berani menyerang negaranya.
Dalam pernyataan di media sosial X, Diaz-Canel menyatakan bakal ada konsekuensi tak terhitung apabila Washington meluncurkan serangan militer terhadap Havana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kuba tidak menimbulkan ancaman, dan tidak memiliki rencana atau niat agresif terhadap negara mana pun, termasuk AS, sama sekali, yang telah diketahui dengan baik oleh pemerintah negara tersebut," tulis Diaz-Canel di X pada Senin (18/5).
Diaz-Canel menambahkan Kuba saat ini "sudah mengalami agresi multidimensi dari AS". Havana dengan demikian "memiliki hak mutlak dan sah untuk membela diri terhadap serangan militer".
Meski begitu, ia menegaskan rakyat Kuba tidak berhak untuk diperangi.
Hubungan AS dan Kuba tegang setelah Trump berulang kali mengindikasikan niat untuk menyerang Havana. Awal bulan ini, Trump mengatakan ingin "mengambil alih" segera pulau Karibia yang berjarak sekitar 145 kilometer dari negara bagian Florida, AS, tersebut.
Trump juga mengatakan Kuba akan menjadi target dia berikutnya, usai operasi militer AS menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro berjalan sukses.
Pada Senin, pemerintahan Trump menjatuhkan sanksi baru terhadap pemerintah Kuba, termasuk kepada badan intelijen dan kementerian dalam negeri. AS juga menjatuhkan sanksi kepada 11 pejabat Kuba, di antaranya menteri kehakiman dan wakil menteri Angkatan Bersenjata Revolusioner Kuba.
Bahkan, larangan Washington mengenai pengiriman dari dan ke Kuba juga sudah berlaku.
Kuba dihantam krisis energi dan pangan parah setelah Trump memblokade minyak dari Venezuela ke negara itu. Pemadaman listrik terjadi di mana-mana buntut kondisi ini.
Selama beberapa dekade, runtuhnya sektor pertanian dan salah urus ekonomi telah menyebabkan pemerintah Kuba mengimpor sebagian besar makanan. Bahkan komoditas seperti gula, kopi, dan tembakau yang dulunya diproduksi dalam jumlah besar sekarang harus impor.
Pekan lalu, menteri energi Kuba menyatakan sumbangan minyak dari Rusia sudah habis di menit-menit terakhir. Akibatnya, warga Kuba harus mengalami lebih banyak pemadaman listrik.
Trump berulang kali mengolok-olok bahwa Kuba adalah "negara yang gagal". Karenanya ia ingin mengambil alih negara tersebut.
Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez telah menyampaikan bahwa Trump bermaksud meletuskan perang baru dengan menargetkan Kuba dan mencari-cari alasan. Ia mengecam keras langkah tersebut.
"Mereka yang berupaya menyerang Kuba secara tidak sah menggunakan dalih apa pun, betapa pun menipu dan menggelikannya, untuk membenarkan serangan yang bertentangan dengan opini publik AS dan dunia," kata Rodriguez, seperti dikutip CNN.
(blq/dna/bac) Add
as a preferred source on Google
