Wamenlu RI Ungkap Jurus Jitu Selat Malaka Tak Jadi 'The Next Hormuz'

CNN Indonesia
Senin, 18 Mei 2026 22:00 WIB
Wamenlu RI Havas sebut Indonesia kerap gandeng negara lain untuk mekanisme kerja sama, berkontribusi jaga Selat Malaka.
Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno (kanan). Foto: CNN Indonesia/ Anisa Dewi
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Menteri Luar Negeri RI Arif Havas Oegroseno buka suara terkait upaya Indonesia dan negara-negara kawasan untuk melindungi hingga mengamankan Selat Malaka agar tak menjadi "the next Selat Hormuz".

Havas mengatakan Selat Malaka dikelola beberapa negara yakni Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Dia mengungkap kerap ada pertemuan rutin guna membahas keamanan navigasi di perairan tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi ada pertemuan reguler di antara yang teknis ya itu antara Dirjen Perhubungan Laut, membahas mengenai safety of navigation (keamanan navigasi)," kata Havas usai menghadiri acara simposium implementasi konvensi hukum laut PBB (UNCLOS) di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta, Senin (18/5).

Tanggapan Havas muncul saat ditanya apa yang dilakukan Indonesia serta negara kawasan di tengah potensi pengendalian Selat Malaka oleh negara superpower dan agar tak seperti Selat Hormuz.

Selat Hormuz menjadi sorotan usai Amerika Serikat dan Israel menggempur habis-habisan Iran pada 28 Februari. Sebagai bagian dari balasan mereka, Teheran menutup selat tersebut.

Situasi kian tegang usai Amerika Serikat turut memblokade kapal-kapal dari dan menuju pelabuhan Iran.

Kembali lagi soal upaya Indonesia menjaga Malaka, Havas mengatakan RI kerap mengundang negara lain, negara pengguna untuk juga berkontribusi dalam manajemen Selat Malaka.

"Namanya mekanisme kerjasama, cooperative mechanism," ungkap dia.

Cooperative mechanism adalah satu mekanisme, di mana negara pengguna memberi kontribusi terhadap pengelolaan Selat Malaka dan Selat Singapura.

"Nah, pengelolaan itu sebenarnya apa? Ini supaya teman-teman juga mengerti konteksnya ya. Pengelolaan Selat Malaka dan Selat Singapura itu pertama, dengan electronic chart [peta elektronik]," ungkap Havas.

"Kemudian yang kedua, memberikan tanda-tanda bahaya. Kemudian ada lampu suar, lalu juga memberikan informasi mengenai arus," imbuh dia.

Dengan demikian semua kapal yang melakukan navigasi di sana mendapat informasi yang maksimal untuk keselamatan dan keamanannya.

Sederet fasilitas itu muncul usai kapal Jepang, Showa Maru tenggelam di Selat Malaka pada 1973 hingga menimbulkan polusi yang luar biasa, dan mengganggu pelayaran.

(isa/dna) Add as a preferred
source on Google