Demo Besar di Argentina Tolak Pemotongan Anggaran Pendidikan Tinggi
Puluhan ribu warga Argentina dari berbagai kelas dan umur turun ke jalan di Buenos Aires untuk memprotes pemotongan anggaran universitas negeri yang dilakukan Presiden Javier Milei, Selasa (12/5).
Mengutip dari AFP, itu adalah demonstrasi besar keempat yang dilakukan warga sipil dan mahasiswa memprotes pemotongan anggaran universitas yang dilakukan Milei sejak menjabat Desember 2023 lalu.
Bukan hanya memotong pengeluaran untuk pendidikan, pemerintahan Milei juga bermaksud melakukan efisiensi pada pengeluaran kesehatan. Dan, protes itu dilakukan massa dalam tempo kurang dari 24 jam pengumuman efisiensi itu disampaikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Massa 'Marcha Federal Universitaria' itu berkumpul di Plaza de Mayo, tempat istana presiden, dan meluas ke jalan-jalan di sekitarnya.
AFP melaporkan kerumunan gabungan massa mahasiswa, dosen, dan demonstran lainnya memenuhi Plaza de Mayo , di depan Casa Rosada, dan jalan-jalan sekitarnya. Mereka membawa spanduk bertuliskan slogan-slogan seperti "Orang bodoh ingin kita tetap bodoh."
Sebuah dokumen tuntutan yang dibacakan seorang orator dari panggung dalam protes tersebut meminta pengadilan untuk "berdiri bersama kami dan mendengarkan seruan kami."
Sementara itu, media massa lokal--salah satunya Buenos Aires Times--memberitakan aksi serupa terjadi juga di sejumlah kota lain di seluruh negara itu termasuk di Córdoba, Mendoza, dan Tucuman
"Saya di sini untuk membela hak publik atas pendidikan," kata Renata Lopez (18), seorang mahasiswi sastra kepada AFP di sela aksi di Buenos Aires.
Dalam aksi itu, dia terlihat memegang salinan novel "Fahrenheit 451" karya Ray Bradbury yang menggambarkan masyarakat distopia masa depan yang telah melarang buku.
Lopez mengaku sengaja membawa salinan novel itu sebagai bentuk suara protes darinya, karena karya sastra tersebut, "Berbicara tentang realitas kita saat ini."
"Pengurangan pendanaan pendidikan bukanlah sesuatu yang asing, bukan sesuatu yang distopia. Itu adalah sesuatu yang sedang terjadi," imbuhnya.
Seorang guru, Ludmila (35), yang turut dalam aksi di Buenos Aires mengatakan, "Fakta bahwa setiap orang dapat kuliah, terlepas dari kelas sosial mereka, adalah sesuatu yang harus kita bela."
Selain itu, dia mendesak pemerintah Argentina juga memerhatikan kesejahteraan para pengajar. Menurut Serikat Pekerja, dalam beberapa tahun terakhir, gaji guru di Argentina telah turun sebesar 40 persen dan ratusan guru telah mengundurkan diri.
Selain itu, sejak Milei jadi presiden pada akhir 2023 lalu, gaji para profesor di universitas pun telah jatuh hingga sepertiga dalam nilai rilil setelah disesuaikan dengan inflasi.
Perwakilan koordinator demonstran di Buenos Aires mengatakan jumlah massa yang turun ke jalan pada Selasa lalu diperkirakan mencapai 600.000 orang. Para demonstran pun terdiri atas berbagai kelompok usia dan kelas sosial dari mulai dosen, guru, orang tua, mahasiswa, bahkan pelajar sekolah menengah.
Protes tersebut menyerukan implementasi undang-undang pendanaan universitas yang menjadi pusat kebuntuan politik yang berkepanjangan.
Padahal sebelumnya, universitas-universitas negeri di Argentina telah bebas biaya kuliah sejak tahun 1949 dan telah menghasilkan lima peraih nobel.
Mengutip dari Aljazeera, Kongres Argentina tahun lalu menyetujui undang-undang untuk membiayai biaya operasional universitas dan meningkatkan gaji akademisi sejalan dengan inflasi yang melonjak. Namun, pemerintahan Milei menolak untuk menerapkannya dan menggugat undang-undang tersebut di pengadilan.
Milei melakukan veto dengan dalih undang-undang itu bertentangan dengan kebijakan fiskal pemerintahannya.
Pemerintah Milei lalu meminta intervensi dari Mahkamah Agung, yang tidak terikat tenggat waktu untuk mengeluarkan putusan.
Selain itu diwartakan juga kemarahan rakyat Argentina itu dipicu serangkaian tuduhan korupsi, termasuk penyelidikan atas -- yang digambarkan media lokal--sebagai pengeluaran mewah oleh sekutu dekat Milei, Kepala Kabinet Manuel Adorni. Profil harta kekayaan Adorni disebut bertentangan dengan gaji resmi dan aset yang dinyatakannya.
Alejandro Alvarez, wakil sekretaris presiden untuk kebijakan universitas, menolak aksi demonstrasi tersebut sebagai "sepenuhnya politis" dan bersikeras bahwa pemerintah telah memberikan kompensasi kepada universitas atas kenaikan biaya, kenaikan yang menurut serikat pekerja masih jauh dari yang dibutuhkan.
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
