Israel Diduga Tutupi Data Ribuan Tentara Stres Berat Imbas Agresi Gaza

CNN Indonesia
Rabu, 06 Mei 2026 20:15 WIB
Israel diduga tutup-tutupi data soal ribuan anggota militernya yang alami gangguan mental imbas agresi Gaza.
Israel diduga tutup-tutupi data soal ribuan anggota militernya yang alami gangguan mental imbas agresi Gaza. Foto: AFP/ZAIN JAAFAR
Jakarta, CNN Indonesia --

Militer Israel diduga menyembunyikan informasi tentang pemberhentian ribuan tentara dari dinas selama perang di Jalur Gaza, karena gangguan psikologis.

Surat kabar Haaretz, seperti dikutip Anadolu Agency, melaporkan bahwa Israel tidak memberikan semua data mengenai jumlah tentara yang diberhentikan selama perang karena kondisi mental mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Haaretz mengatakan telah meminta data lengkap dari juru bicara militer Israel sejak 2025, namun permintaan itu ditolak. Israel beralasan permintaan itu harus diajukan berdasarkan Undang Undang Kebebasan Informasi Israel.

Menurut Haaretz, penundaan tersebut melanggar hukum. Pihak berwenang seharusnya menanggapi permintaan itu dalam waktu 30 hari, dengan perpanjangan hingga 120 hari, yang diperbolehkan dalam keadaan khusus.

Haaretz mengeklaim sekitar sebulan setelah permintaan diajukan, Israel meminta perpanjangan selama 30 hari untuk menanggapi. Namun hingga kini mereka belum merilis data tersebut.

Beberapa pejabat militer Israel yang bertugas di personalia militer, penundaan rilis itu gara-gara laporan yang "tidak memuaskan para komandan atau tidak sesuai dengan tujuannya".

Bahkan seorang perwira mengaku ada yang tahu cara memanipulasi angka dan persentase, serta menyembunyikan informasi yang tidak memuaskan.

"Jelas bahwa militer tidak ingin publik mengetahui sejauh mana tekanan psikologis yang dialami para prajurit," kata sumber itu.

Menurut surat kabar itu, militer Israel sengaja menghindari publikasi data karena skalanya, dan khawatir data itu bisa merusak moral politik.

"Pada hari-hari awal (agresi), angkatan darat dan Kementerian Pertahanan harus menangani jumlah kasus yang belum terjadi sebelumnya, yang melibatkan tentara yang menderita tekanan psikologis berat," demikian laporan Haaretz.

Beberapa laporan menyebut banyak tentara yang terlibat pengepungan Gaza mengalami tekanan mental serius, hingga tak bisa kembali bertempur.

Angkatan darat pun secara signifikan meningkatkan jumlah petugas kesehatan mental, mendirikan pusat perawatan khusus, dan merahasiakan angka bunuh diri dari publikasi resmi hingga akhir tahun 2024.

(dna) Add as a preferred
source on Google