Mengapa Trump Sangat Ingin Iran Mengaku Kalah dari AS?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump benar-benar menginginkan pengakuan kalah perang dari Iran.
Pengakuan ini dinilai penting sebab menjadi pintu menuju langkah selanjutnya AS di Iran dan Timur Tengah.
"Lihat, semua yang mereka miliki telah hilang, termasuk kepemimpinan mereka," katanya seperti dilansir CNN Maret silam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kesempatan lain, Trump menyatakan bahwa Iran harus menyerah. Trump mengatakan bahwa AS, secara militer telah menghancurkan Iran dan tidak lagi memiliki pasukan militer dan mengklaim Amerika memiliki militer yang luar biasa, sehingga Iran harus segera menyatakan menyerah dan menyepakati kesepakatan yang diminta Amerika, bahwa tidak akan ada senjata nuklir.
Mengapa Trump butuh klaim menang?
Menurut Ahli strategi dari CSIS & Lowy Institute Australia Mick Ryan, teori kemenangan Amerika Serikat saat ini kabur.
Teori kemenangan adalah uraian yang koheren tentang bagaimana penerapan kekuatan militer menghasilkan hasil politik yang bertahan lama. Sambil mengutip bukunya, "The War for Ukraine" dia mengkaji konsep teori kemenangan.
Saat AS berperang melawan Iran, mereka sudah punya keyakinan sedang melakukan kampanye militer regional bersama mitra Israel-nya. Sehingga, kemenangan yang mereka harapkan bisa menjadi jalan mulus untuk regional.
Pengakuan menang ini, penting untuk sekutunya, Israel, dan sejumlah kecil mitra pangkalan yang diizinkan. Kemenangan itu akan berdampak bukan saja pada militer tapi juga ekonomi dan politik di masa depan.
"Konsep kemenangan harus mencakup tujuan di luar aktivitas militer. Kini, gagasan kemenangan harus mencakup kebutuhan jangka panjang ekonomi, diplomatik, dan sosial, serta hasil militer jangka pendek dan menengah. Dengan demikian, teori kemenangan harus mencakup memenangkan perang serta memenangkan perdamaian," kata Ryan yang juga pensiunan Mayor Jenderal Angkatan Darat Australia dikutip dari laman mickryan.substack.com.
Logika strategisnya, setidaknya sebagaimana dapat direkonstruksi dari pernyataan publik dan video dari pemerintahan Trump, adalah bahwa penerapan intelijen dan persenjataan Barat secara tepat akan menghancurkan infrastruktur nuklir Iran, menghilangkan produksi rudal balistiknya, menurunkan kapasitas angkatan lautnya, melumpuhkan kepemimpinan seniornya, dan menciptakan kondisi bagi rakyat Iran untuk bangkit dan memaksa perubahan rezim.
"Perang ini, sesuai rancangannya, adalah perang Amerika dengan sedikit penyebutan peran Israel," katanya.
Namun, pemerintahan Trump memasuki Operasi Epic Fury dengan teori tentang cara-cara yang akan digunakan dan berbagai tujuan yang berbeda dan terus berubah.
Mereka mungkin dapat menggunakan militer untuk memenangkan perang, tetapi tidak jelas apakah mereka memiliki rencana jangka panjang untuk memenangkan perdamaian.
Cara untuk memenangkan perang ini sangat mengesankan: lebih dari 6.000 target dihantam dalam tiga minggu pertama, dominasi udara ditegakkan dengan cepat, komando dan kendali militer Iran melemah, kapasitas angkatan laut Iran sebagian besar hancur, peluncur rudal dan fasilitas penyimpanan dihancurkan, dan banyak pangkalan serta fasilitas nuklir lainnya dihantam.
Dimensi militer kampanye ini telah dilaksanakan dengan presisi yang luar biasa dengan lebih dari 7.000 target yang dihantam (per 17 Maret 2026). Nah, pengakuan kalah dari Iran sangat diharapkan setelah serangan itu.
Masalahnya, meraih kemenangan militer yang tipis adalah satu hal. Mempertahankannya - memenangkan perdamaian - membutuhkan tekanan berkelanjutan, upaya diplomatik, dan kesediaan untuk menyerang lagi jika Iran membangun kembali kekuatannya.
Strategi itu, yang mungkin disebut "Memangkas Rumput", membutuhkan sumber daya seperti amunisi presisi, kehadiran di garis depan, serta kapasitas politik dan diplomatik Amerika, yang sudah sangat terbatas karena membantu Ukraina, Pasifik, dan sekarang Timur Tengah.
(imf/bac) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]


