Kronologi Trump-Paus Leo 'Ribut' soal Perang AS dan Israel vs Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali tuai sorotan usai nyinyir karena dikritik Kepala Negara Vatikan sekaligus Pemimpin Gereja Katolik Sedunia Paus Leo soal perang Amerika Serikat-Israel vs Iran.
AS dan Israel menggempur habis-habisan Iran sejak 28 Februari. Teheran tak tinggal diam, mereka meluncurkan balasan ke Negeri Zionis dan aset AS di negara-negara Teluk.
Selain itu, Iran menutup jalur perdagangan minyak global Selat Hormuz sebagai balasan ke AS-Israel. Langkah ini memicu kekhawatiran lonjakan harga dan krisis bahan bakar minyak di sejumlah negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga kini juga tak ada tanda-tanda perang berakhir, meski keduanya sempat perundingan damai usai gencatan senjata dua pekan.
Berikut kronologi Trump yang cari ribut usai dikritik Paus Leo.
Pada 29 Maret bertepatan dengan Minggu Palma, Paus Leo mengatakan Yesus sebagai Raja Damai mengajarkan perdamaian bukan mengobarkan kekerasan bahkan ketika perang di sekitarnya mengancam.
"Ini lah Tuhan kita : Yesus, Raja Damai, yang menolak perang, yang tak bisa digunakan siapa pun untuk membenarkan perang," kata Leo. Leo juga mengatakan Yesus tak menerima doa orang-orang yang tangannya "bersimbah darah".
Dia berujar, "Ia tidak mendengarkan doa-doa orang-orang yang berperang, tetapi menolaknya, dengan berkata: 'Meskipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan: tanganmu penuh dengan darah' (Yesaya 1:15)."
Kemudian pada 12 April, Trump membalas kritikan Paus. Ia menyebut Leo tak akan bisa berada di posisi tersebut jika politikus Partai Republik ini tak jadi presiden.
"Leo seharusnya bersyukur karena, seperti yang semua orang tahu, dia adalah kejutan yang tak terduga, tidak ada dalam daftar calon Paus dan hanya ditempatkan di sana oleh Gereja karena dia orang Amerika, dan mereka berpikir itu akan jadi cara terbaik menghadapi Presiden Donald J Trump," kata dia.
Trump lantas menegaskan AS tak butuh Paus yang mengkritik kepala negara dan kebijakannya termasuk saat Washington meluncurkan agresi ke Venezuela.
"Saya tak ingin seorang Paus yang mengira tak apa-apa Iran punya senjata nuklir," kata dia.
"Saya juga tak ingin Paus yang berpikir bahwa serangan Amerika terhadap Venezeula sangat buruk, negara yang mengirim narkoba ke Amerika, dan lebih buruk lagi mengirim pembunuh, pengedar, mengosongkan penjara mereka ke negara kami," imbuh Trump.
Trump juga mengolok-olok Leo dan menyebutnya radikal karena pernah bertemu dengan sejumlah simpatisan eks Presiden Barrack Obama, David Axelrod.
"Leo harus memperbaiki perilakunya sebagai Paus, menggunakan akal sehat, berhenti melayani sayap kiri radikal, dan fokus menjadi Paus yang hebat, bukan malah menjadi politisi," ungkap dia.
Kemudian pada 13 April, saat hendak melakukan perjalanan Apostolik ke Al Jazair, Paus mengatakan tak takut pemerintahan Trump.
"Saya tidak takut terhadap pemerintahan Trump, ataupun untuk menyuarakan pesan Injil dengan lantang, itulah yang saya yakini menjadi tugas saya," kata dia di pesawat sebelum melakukan perjalanan Apostolik ke Al Jazair.
Saat ditanya langsung mengenai kritikan pedas Trump di Truth Social, Paus menjawab singkat: "Ironis, bahkan dari nama platformnya saja. Tidak perlu saya tambahkan lagi."
Di dalam pesawat kepausan, Leo mengatakan "tak berniat berdebat" dengan Trump, seraya menegaskan bahwa dirinya "bukan seorang politisi". Kemudian pada 14 April, Leo kembali menyerukan Tuhan tak suka orang-orang yang menyebabkan kekerasan dan kerusakan.
Namun, dia tak menyebut secara rinci pelaku perang yang dimaksud. Leo hanya menggambarkan secara umum bahwa Tuhan sedih perang di dunia ini masih berkobar.
"Hati Tuhan terkoyak karena perang, kekerasan, ketidakadilan, dan kebohongan. Tetapi hati Bapak kita tidak bersama orang-orang jahat, orang-orang yang sombong, atau orang-orang yang angkuh," tutur Paus.
"Hati Tuhan bersama orang-orang kecil dan orang-orang yang rendah hati, dan bersama mereka Ia membangun Kerajaan kasih dan damai-Nya hari demi hari. Di mana pun ada kasih dan pelayanan, Tuhan ada di sana," imbuh dia.
Dalam unggahan terbaru di media sosial buatannya Truth Social pada Rabu (15/5), Trump kembali nyinyir ke Puas Leo. Dia berdalih alasan AS menyerang Iran karena pemerintah membunuh 42.000 warga sipil tak berdosa.
"Tolong sampaikan ke Paus Leo Iran sudah membunuh setidaknya 42.000 warga sipil tak berdosa dan tak bersenjata dalam dua bulan terakhir," kata Trump.
Pernyataan itu merujuk ke angka korban tewas dalam demonstrasi yang tak bisa diverifikasi lembaga independen mana pun.
(isa/dna) Add
as a preferred source on Google

