Ukraina soal Rudal Rusia Hantam Pabrik Oreo: Bisnis AS Jadi Sasaran

CNN Indonesia
Minggu, 22 Feb 2026 14:55 WIB
Sebuah pabrik biskuit Oreo di wilayah timur Ukraina dilaporkan terkena hantaman rudal Rusia pada Sabtu (21/2).
Rusia luncurkan rudal balistik saat perang dengan Ukraina. (Russian Defence Ministry / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah pabrik biskuit Oreo di wilayah timur Ukraina dilaporkan terkena hantaman rudal Rusia pada Sabtu (21/2). Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menyatakan bahwa ini merupakan kali kedua fasilitas tersebut mengalami kerusakan sejak invasi pecah pada 2022.

Sybiha melalui unggahan di platform X mengonfirmasi bahwa tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Namun, salah satu bangunan produksi di fasilitas yang berlokasi di Trostyanets tersebut mengalami kerusakan cukup parah.

Pabrik tersebut dimiliki oleh perusahaan makanan ringan asal Chicago, Amerika Serikat, yakni Mondelez International. Selain Oreo, perusahaan ini juga memproduksi merek kenamaan lainnya seperti kraker Ritz, cokelat Toblerone, dan permen karet Trident.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga Sabtu malam, pihak Mondelez International maupun Kremlin belum memberikan tanggapan resmi terkait serangan tersebut.

Menlu Sybiha menegaskan bahwa serangan terhadap pabrik ini memiliki implikasi yang lebih luas di kancah internasional.

"Ketika rudal Rusia menghantam situs-situs seperti ini, mereka tidak hanya menargetkan Ukraina. Mereka menargetkan kepentingan bisnis Amerika di Eropa," tulis Sybiha dalam pernyataannya, seperti dilansir Asia One.

Selama masa perang, terdapat catatan kejadian di pabrik Trostyanets. Pada 2022, pabrik mengalami kerusakan parah saat awal invasi Rusia. Pada 2023, pabrik mulai beroperasi lagi secara parsial untuk memproduksi cokelat.

Lalu, pada 2024, pabrik ini kembali memproduksi biskuit Oreo secara penuh. Pabrik kembali lumpuh pada Februari 2026 akibat serangan rudal terbaru Rusia.

Di sisi lain, Mondelez International sendiri tengah menghadapi kritik tajam dari berbagai pihak karena masih mempertahankan operasional bisnisnya di Rusia di tengah kecaman dunia internasional terhadap invasi tersebut.

Kerusakan berulang pada pabrik di Trostyanets ini menonjolkan risiko besar yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan multinasional yang masih beroperasi di wilayah konflik Ukraina.

(wiw)


[Gambas:Video CNN]