Iran Setuju Pangkas Pengayaan Uranium jika AS Lakukan Ini

CNN Indonesia
Selasa, 10 Feb 2026 11:35 WIB
Iran akan mempertimbangkan untuk mengurangi pengayaan uraniumnya apabila Amerika Serikat mencabut semua sanksi terhadap Teheran.
Fasilitas pengayaan uranium di Iran. (AFP/BEHROUZ MEHRI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Iran akan mempertimbangkan untuk mengurangi pengayaan uraniumnya apabila Amerika Serikat mencabut semua sanksi terhadap Teheran.

Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, mengatakan Teheran bersedia mengurangi pengayaan uranium jika AS mencabut segala sanksi ekonominya terhadap Iran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kemungkinan untuk mengurangi pengayaan uranium bergantung pada apakah semua sanksi dicabut sebagai imbalannya," kata Eslami pada Senin (9/2), seperti dikutip Reuters.

Pernyataan Eslami dilontarkan setelah AS dan Iran menggelar pembicaraan soal program nuklir Teheran pada Jumat (6/2) lalu di Oman. Pembicaraan tersebut dijadwalkan memasuki putaran kedua.

AS telah mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan jika tak ingin diserang. Armada perang AS sejak beberapa waktu lalu siaga di sekitar Iran untuk menekan negara tersebut.

Dalam tuntutannya, AS meminta Iran berhenti mengembangkan nuklir. Menurut badan nuklir PBB, Iran memiliki lebih dari 440 kilogram persediaan uranium yang diperkaya hingga 60 persen. Jumlah ini selangkah lebih dekat untuk mencapai tingkat senjata nuklir yakni 90 persen.

[Gambas:Video CNN]

Eslami pada kesempatan itu juga menyampaikan tidak ada pembahasan mengenai pengiriman uranium Iran ke luar negeri dalam negosiasi dengan AS. AS sebelumnya dikabarkan meminta Iran mengirim uranium mereka ke luar negeri.

Menurut kantor berita Tasnim, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Ali Larijani, akan mengunjungi Oman pada Selasa (10/2) untuk membahas perkembangan kawasan dan kerja sama bilateral.

Sejauh ini belum ada pengumuman mengenai tanggal dan tempat untuk putaran kedua negosiasi nuklir AS-Iran.

Iran dan AS menggelar lima putaran pembicaraan soal nuklir pada tahun lalu. Namun, negosiasi panjang itu gagal terutama karena perselisihan mengenai pengayaan uranium di Iran.

Pada Juni 2025, AS kemudian menyerang fasilitas-fasilitas nuklir Iran setelah dibujuk oleh Israel. Sejak itu, Teheran mengaku telah menghentikan aktivitas pengayaan uranium mereka.

Namun, menurut Israel, Iran masih berupaya mengembangkan hal tersebut. Iran sendiri sejak awal menegaskan program nuklir mereka semata-mata untuk tujuan damai.

Sejak Januari, kapal-kapal perang dan jet tempur AS mengepung Iran dengan dalih sebagai bala bantuan untuk rakyat Iran. Iran dilanda demo besar dan berdarah sejak 28 Desember hingga menewaskan ribuan orang.

Presiden AS Donald Trump kemudian menggeser alasan pengerahan armada perang ke program nuklir Iran. Trump sempat dikabarkan menuntut Iran untuk turut berhenti mengembangkan rudal balistik. Iran menolak dan meminta AS fokus pada permasalahan nuklir.

(blq/bac)


[Gambas:Video CNN]