Hide Ads

Petugas ICE AS Paksa Masuk Kantor Konsulat Ekuador, Quito Protes

CNN Indonesia
Rabu, 28 Jan 2026 19:25 WIB
Ekuador menyatakan bahwa seorang petugas Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) mencoba secara paksa memasuki kantor Konsulat Ekuador di Minneapolis, Selasa (27/1).
Petugas imigrasi AS, ICE, paksa masuk kantor Konsulat EKuador. (REUTERS/Ryan Murphy)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekuador menyatakan bahwa seorang petugas Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) mencoba secara paksa memasuki kantor Konsulat Ekuador di Minneapolis, pada Selasa (27/1).

Kementerian Luar Negeri Ekuador mengatakan bahwa upaya tersebut berhasil digagalkan oleh staf konsulat yang menutup akses masuk.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir situs Reuters, kementerian langsung mengirim "nota protes" kepada Kedutaan Besar AS di Quito, ibu kota Ekuador, dengan tuntutan agar insiden serupa tidak kembali terjadi.

Dalam pernyataan tersebut, insiden itu diberi judul sebagai "upaya pelanggaran terhadap Konsulat Ekuador di Minneapolis oleh agen ICE".

Kementerian juga menyatakan bahwa langkah staf konsulat yang mencegah masuk agen ICE telah menjamin keselamatan warga negara Ekuador yang berada di dalam gedung saat kejadian berlangsung.

Namun, kementerian tidak menjelaskan rinci kronologi kejadian itu. Sejumlah saksi mata di sekitar konsulat mengaku melihat agen imigrasi berusaha masuk gedung itu.

"Saya melihat para petugas mengejar dua orang di jalan, lalu kedua orang itu masuk ke konsulat dan para petugas berusaha masuk mengejar mereka," kata perempuan yang menolak namanya disebut karena khawatir akan pembalasan dari pemerintah federal.

"(Para agen) tidak berhasil masuk ke dalam konsulat setahu saya," tambah dia.

[Gambas:Video CNN]

Berdasarkan perjanjian internasional, kedutaan besar, kantor konsuler, dan fasilitas diplomatik suatu negara dianggap sebagai bagian dari wilayah kedaulatan negara tersebut.

Oleh karena itu, tempat-tempat itu dilindungi kekebalan diplomatik dan tidak boleh dimasuki aparat pemerintah asing tanpa izin.

Peristiwa ini terjadi di tengah pelaksanaan operasi deportasi massal yang melibatkan sekitar 3.000 personel ICE dan Patroli Perbatasan AS bersenjata lengkap.

Ribuan personel itu dikerahkan ke Minnesota atas perintah Presiden Donald Trump beberapa pekan sebelumnya.

Operasi penegakan imigrasi pemerintahan Trump di Minneapolis yang dikenal sebagai Operation Metro Surge berujung pada penembakan fatal terhadap dua warga negara AS di kawasan jalan tersibuk di Minnesota.

Insiden itu kemudian memicu gelombang aksi protes selama beberapa pekan di wilayah itu dan di berbagai daerah lain di AS.

Di tengah meningkatnya tekanan politik untuk meredakan ketegangan, kepala urusan perbatasan Trump, Tom Homan, pada Selasa bertemu dengan Wali Kota Minneapolis dan Gubernur Minnesota guna mencari jalan keluar dari krisis itu.

Hingga berita ini diturunkan, Departemen Luar Negeri AS maupun Departemen Keamanan Dalam Negeri, yang membawahi ICE dan Patroli Perbatasan, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari Reuters.

(rnp/bac)


[Gambas:Video CNN]