Hide Ads

Trump Sebut Perusahaan AS Mulai Bor Minyak Venezuela Dalam Waktu Dekat

CNN Indonesia
Jumat, 23 Jan 2026 13:00 WIB
Trump klaim sejumlah perusahaan AS mulai bor minyak Venezuela dalam waktu dekat, permudah keterlibatan perusahaan asing di sektor minyak.
Presiden AS Donald Trump. Foto: Getty Images via AFP/ALEX WONG
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Donald Trump mengeklaim sejumlah perusahaan Amerika Serikat akan mulai mengebor minyak di Venezuela dalam waktu dekat, pada Kamis (22/1).

Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan dalam perjalanan kembali ke Washington, DC dari Davos, Swiss.

"Kita akan segera mulai mengebor," kata Trump, seperti dikutip Anadolu Agency.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia juga menambahkan bahwa AS memiliki perusahaan-perusahaan "terbesar" di dunia.

"Kita memilikinya, dan mereka akan masuk. Mereka semua sedang bernegosiasi saat ini," ujarnya

Pada hari yang sama, anggota parlemen Venezuela menyetujui rencana untuk mempermudah keterlibatan perusahaan asing di sektor minyak, sebagai respons terhadap tuntutan Trump.

Anggota parlemen Venezuela, Orlando Camacho, menyebut reformasi hidrokarbon yang diumumkan Presiden sementara Delcy Rodríguez memberi perusahaan asing hak kelola ladang minyak dengan "risiko dan biaya sendiri." Rencana ini diumumkan pekan lalu dan kini sedang dibahas di parlemen Venezuela.

Majelis Nasional Venezuela juga memberikan dukungan awal terhadap RUU reformasi ini, yang kini akan menghadapi putaran debat kedua sebelum dapat diadopsi.

"Minyak di bawah tanah tidak ada gunanya," kata Presiden Majelis Nasional, Jorge Rodríguez, yang juga kakak dari presiden sementara, seperti dikutip CNN.

"Apa gunanya mengatakan bahwa kita memiliki cadangan minyak terbesar di planet ini jika kondisi ... menghalangi proses percepatan produksi, menuju peningkatan produksi minyak? Dan kita harus melakukannya, dan melakukannya sekarang," imbuhnya.

Selanjutnya, anggota parlemen juga menyetujui tambahan UU yang bertujuan meningkatkan perlindungan hukum bagi bisnis. Perlindungan tersebut merupakan salah satu isu yang menjadi syarat perusahaan AS untuk berinvestasi di negara itu.

Sumber mengatakan bahwa eksekutif minyak AS cenderung enggan masuk ke Venezuela karena kekhawatiran soal keamanan serta ketidakpastian politik dan ekonomi di negara itu.

"Minat untuk masuk ke Venezuela saat ini cukup rendah. Kami tidak tahu seperti apa pemerintah di sana nanti," ujar salah satu sumber industri yang memiliki posisi strategis kepada CNN awal bulan ini.

Venezuela memiliki cadangan minyak yang terbukti lebih banyak daripada negara mana pun di dunia. Namun, perusahaan minyak menyatakan mereka butuh kepastian operasional jangka panjang sebelum berinvestasi di proyek pengeboran terpencil.

Selama hampir 20 tahun, mayoritas sektor minyak Venezuela dikuasai oleh perusahaan negara PDVSA, sementara keterlibatan perusahaan asing dibatasi pada usaha patungan bersama perusahaan publik.

Dengan membuka akses bagi perusahaan minyak AS, langkah ini memenuhi salah satu tuntutan utama pemerintahan Trump terhadap Venezuela terkait keterlibatan perusahaan AS di sektor minyak.

Sebelumnya, Gedung Putih mengumumkan kesepakatan penjualan minyak mentah Venezuela senilai US$500 juta (sekitar Rp8 triliun) antara Caracas dan Washington.

Pada Selasa, Presiden sementara Delcy Rodríguez mengatakan Venezuela telah menerima US$300 juta (sekitar Rp4,8 triliun) dari total tersebut.

(rnp/dna)