Cegah Eskalasi AS-Iran Memanas, Negara-Negara Arab Perkuat Diplomasi

CNN Indonesia
Jumat, 16 Jan 2026 21:40 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --

Negara-negara Teluk dan Arab meningkatkan upaya diplomasi untuk mencegah eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Hal ini dilakukan di tengah kekhawatiran potensi dampak keamanan dan ekonomi di kawasan.

Negara-negara Teluk disebut tidak menginginkan kekacauan yang dapat timbul jika Amerika Serikat melancarkan serangan militer ke Iran atau jika Republik Islam itu runtuh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kekhawatiran tersebut menguat seiring ancaman aksi militer dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Teheran, di saat Iran dilanda gelombang protes nasional.

Di balik layar, Arab Saudi dilaporkan melobi pemerintahan AS agar menahan diri dari menyerang Iran. Sementara itu, Qatar dan Oman memfokuskan upaya pada pendekatan diplomatik antara pejabat Iran dan Amerika Serikat.

Laporan Aljazeera pada Jumat (16/1), mengungkap bahwa ketiga negara meningkatkan intensitas diplomasi setelah laporan pada Rabu menyebutkan komunikasi antara Washington dan Teheran terputus, sehingga memicu kekhawatiran serangan militer akan segera terjadi.

Analis Teluk dan non-resident fellow di Arab Gulf States Institute, Anna Jacobs Khalaf, mengatakan negara-negara tersebut khawatir karena jalur komunikasi tradisional antara AS dan Iran tidak dimanfaatkan.

"Mereka semua merasa khawatir karena semua saluran tradisional [antara AS dan Iran] tidak digunakan, setidaknya dari pihak AS," kata Anna, melansir Aljazeera, Jumat (16/1).

Kekhawatiran serupa disampaikan asisten profesor studi keamanan kritis di Doha Institute for Graduate Studies, Muhanad Seloom, yang menyebut para pejabat Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) tidak mengetahui secara pasti niat Amerika Serikat.

"Pejabat GCC [Dewan Kerjasama Teluk] tidak tahu apa niat AS," kata Seloom.

Ketegangan meningkat

Ketegangan meningkat setelah Trump berulang kali mengancam aksi militer terhadap Iran terkait kekerasan yang terjadi selama demonstrasi. Otoritas Iran menyatakan lebih dari 100 personel pasukan keamanan tewas dalam bentrokan dengan pengunjuk rasa, sementara aktivis oposisi menyebut jumlah korban demonstran melebihi 1.000 orang sejak aksi protes pecah pada akhir Desember. Angka-angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Trump juga menyerukan warga Iran untuk mengambil alih institusi negara dan menyatakan bahwa bantuan sedang dalam perjalanan. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran eskalasi di kawasan, meski bentuk serangan yang dimaksud tidak dijelaskan.

Negara-negara Teluk Arab menilai serangan militer terhadap Iran berpotensi mengganggu harga minyak, merusak citra kawasan sebagai tujuan aman bagi bisnis, serta memicu serangan balasan Iran di wilayah mereka.

Kekhawatiran ini didasari pengalaman sebelumnya, termasuk serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi pada 2019 dan serangan Iran ke pangkalan udara Al Udeid di Qatar pada Juni lalu setelah AS menyerang fasilitas nuklir Iran.

Pada Rabu, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran telah memperingatkan negara-negara kawasan, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Turki, bahwa pangkalan militer AS di negara-negara tersebut akan diserang jika Washington menargetkan Iran. Pernyataan itu diikuti dengan penarikan sebagian personel dari pangkalan Al Udeid.

Meskipun masing-masing negara GCC memiliki hubungan yang berbeda dengan Iran, para ahli menyebut seluruhnya khawatir terhadap kemungkinan kekosongan kekuasaan atau runtuhnya sistem pemerintahan di Teheran. Pengalaman kekacauan di Irak pascainvasi AS pada 2003 menjadi salah satu pertimbangan utama.

Qatar, Kuwait, dan Oman selama ini mempertahankan hubungan yang relatif stabil dengan Iran. Qatar bahkan berbagi ladang gas alam terbesar di dunia dengan Teheran.

Uni Emirat Arab, khususnya Dubai, juga memiliki hubungan dagang yang kuat dengan Iran, meski dalam beberapa waktu terakhir pejabat Emirat memilih tidak memberikan pernyataan terbuka.

Arab Saudi dan Iran, meski memiliki sejarah rivalitas panjang, dalam beberapa tahun terakhir menjaga hubungan yang lebih pragmatis dengan membuka jalur komunikasi dan mencegah eskalasi. Riyadh disebut mewaspadai ketidakstabilan kawasan karena tengah menjalankan agenda reformasi ekonomi yang membutuhkan stabilitas regional.

Menteri Negara Urusan Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir menyatakan tujuan negaranya adalah mencapai stabilitas dan ketenangan agar sumber daya dapat difokuskan untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi masyarakat.

"Tujuan kami adalah mencapai stabilitas dan ketenangan agar kami dapat mengarahkan sumber daya kami untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi rakyat kami," kata Al-Jubeir.

(dmi/dmi)