PM Denmark Mau Upayakan Diplomasi ke AS soal Greenland
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen memilih jalur diplomasi dengan Amerika Serikat terkait Greenland, menyusul pernyataan Presiden Donald Trump soal wilayah tersebut.
Menjelang pertemuan di Washington mulai Senin (12/1), Frederiksen menyatakan bahwa "telah terjadi konflik terkait Greenland."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah momen yang menentukan," ujar Frederiksen, dikutip AFP.
Dalam unggahan di Facebook, Frederiksen menegaskan, "kami siap membela nilai-nilai kami, di mana pun diperlukan, termasuk di kawasan Arktik. Kami percaya pada hukum internasional dan hak menentukan nasib sendiri bagi setiap bangsa."
Negara-negara Eropa segera memberikan dukungan. PM Swedia Ulf Kristersson mengecam ancaman dari AS, setelah Trump mengatakan Washington "akan melakukan sesuatu terhadap Greenland, suka atau tidak suka".
"Swedia, negara-negara Nordik, negara-negara Baltik, serta sejumlah negara besar Eropa berdiri bersama sahabat kami, Denmark," kata Kristersson dalam konferensi pertahanan di Salen.
Selain itu, Jerman juga menegaskan dukungannya terhadap Denmark dan Greenland menjelang pembahasan di Washington.
Sebelum bertemu Menlu AS Marco Rubio, Menlu Jerman Johann Wadephul mengadakan pertemuan di Islandia untuk membahas "tantangan strategis kawasan Utara Jauh."
"Keamanan di Arktik menjadi semakin penting dan merupakan bagian dari kepentingan bersama kita di NATO," katanya dalam konferensi pers bersama Menlu Islandia Thorgerdur Katrin Gunnarsdottir.
Namun, ia menegaskan bahwa masa depan Greenland harus ditentukan oleh rakyat Greenland dan Denmark.
Negara-negara Eropa bergerak cepat mengoordinasikan respons setelah Gedung Putih menyatakan Trump ingin membeli Greenland dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer.
Pada Selasa, tujuh negara Eropa, termasuk Prancis, Inggris, Jerman, dan Italia, menandatangani surat yang menegaskan hanya Denmark dan Greenland yang berhak menentukan masa depan wilayah itu.
Trump menilai penguasaan pulau itu penting bagi keamanan nasional AS karena meningkatnya aktivitas militer Rusia dan China di kawasan Arktik.
Panglima Tertinggi NATO, Jenderal Alexus Grynkewich, mengatakan bahwa negara-negara anggota aliansi tengah membahas status Greenland.
Meski tidak ada "ancaman langsung" terhadap wilayah NATO, ia menambahkan bahwa kepentingan strategis Arktik berkembang sangat cepat.
Greenland, yang merupakan koloni Denmark hingga 1953, memperoleh pemerintahan sendiri 26 tahun kemudian dan kini mempertimbangkan untuk melonggarkan hubungan dengan Denmark.
Jajak pendapat menunjukkan mayoritas penduduk Greenland dengan tegas menolak pengambilalihan oleh AS.
(rnp/bac)[Gambas:Video CNN]


