Iran dilanda demo berdarah setelah tujuh orang meninggal dunia dalam unjuk rasa yang dimulai sejak Minggu (28/12).
Media Iran International melaporkan demonstrasi pecah di berbagai kota Iran, di antaranya di Teheran, Mashhad, Isfahan, Lorestan, Khuzestan, Azna, dan Qom. Demo itu diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari pedagang hingga pelajar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aksi ini terjadi setelah para pedagang memprotes anjloknya nilai tukar rial terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang pada Minggu mencapai level terendah sepanjang masa, yakni 1,42 juta per dolar.
Pedagang mengeluh sulit bersaing di pasaran dan pejabat tak acuh dengan kondisi tersebut.
"Mereka bahkan tidak menindaklanjuti bagaimana harga dolar memengaruhi kehidupan kami," kata seorang pedagang yang bicara kepada surat kabar Etemad, seperti dikutip AFP.
"Kami terpaksa memprotes. Dengan harga dolar yang seperti ini, kami bahkan tidak bisa menjual casing ponsel, dan para pejabat sama sekali tidak peduli bahwa penghidupan kami bergantung pada penjualan ponsel dan aksesorisnya," lanjutnya, yang tak ingin identitasnya diungkap.
Selama berpuluh-puluh tahun, perekonomian di Iran terperosok buntut sanksi negara-negara Barat. Kondisi itu kian parah setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberlakukan kembali sanksi internasional karena program nuklir Iran.
Pada Desember, inflasi di Iran tercatat mencapai 52 persen year-on-year. Sejumlah ekonom telah memperingatkan bahwa Iran berpotensi mengalami krisis pasokan pangan nasional apabila stabilitas mata uang tak segera ditangani.
Demo yang awalnya diakibatkan krisis moneter ini tak lama kemudian berubah menjadi tuntutan perubahan rezim.
Para pedemo mulai menyerukan slogan anti-rezim Ayatollah Ali Khamenei dan mendesak Iran kembali ke monarki.
Di berbagai daerah, warga menuntut agar Reza Pahlavi memerintah negara tersebut. Reza Pahlavi merupakan Putra Mahkota terakhir Kerajaan Iran sekaligus Kepala Dinasti Pahlavi yang kini diasingkan dari Iran.
Kementerian Dalam Negeri Iran telah mewanti-wanti bahwa demonstrasi terbesar sejak 2022 ini dipicu oleh propaganda eksternal. Wakil Menteri Dalam Negeri Bidang Keamanan dan Penegakan Hukum Ali-Akbar Pourjamshidian pada Senin (29/12) mengatakan isu volatilitas mata uang Iran didorong oleh rekayasa musuh Iran.
Pada hari yang sama, Pahlavi mengunggah video di Instagramnya yang menyerukan rakyat Iran turun ke jalan dan mengakhiri pemerintahan teokrasi Teheran yang telah menggulingkan monarki ayahnya pada 1979.
"Salam kepada saudara-saudara sebangsa saya di pasar dan kepada mereka yang telah turun ke jalan. Selama rezim ini berkuasa, situasi ekonomi negara hanya akan memburuk. Sekaranglah saatnya untuk menjaga solidaritas," kata Pahlavi.
"Saya meminta semua lapisan masyarakat untuk bergabung dengan mereka yang telah turun ke jalan dan menyerukan diakhirinya rezim ini. Secara khusus, saya memiliki pesan untuk pasukan keamanan dan kepolisian: Ambil kendali atas nasib Anda sendiri. Rezim ini sedang runtuh. Jangan melawan rakyat, bergabunglah dengan rakyat," lanjutnya.
Amerika Serikat dan Israel pada saat yang sama juga kompak menyuarakan dukungan terhadap unjuk rasa rakyat Iran yang menuntut perubahan rezim.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Israel menyebut masyarakat Iran sudah muak dengan Khamenei, dan Kemlu AS mendesak pemerintah Iran merespons tuntutan rakyat dengan tepat.
"Republik Islam Iran harus menghormati hak-hak mendasar rakyat Iran dan menanggapi tuntutan sah mereka, bukannya membungkamnya. Amerika Serikat mendukung rakyat Iran dalam upaya mereka untuk menyampaikan suara mereka," demikian pernyataan Kemlu AS dalam unggahan di akun X berbahasa Persia.
Video-video yang beredar di media sosial menunjukkan demonstrasi di Iran berlangsung panas, dengan aparat keamanan terlibat bentrok dengan massa. Mobil dan berbagai bangunan terlihat dibakar oleh kerumunan orang.
Presiden Masoud Pezeshkian telah meminta masyarakat untuk tenang dan mendesak pemerintah segera menanggapi kekhawatiran rakyat.
"Jika masyarakat tidak puas, kitalah yang harus disalahkan. Jangan menyalahkan Amerika atau siapa pun. Kita harus melayani dengan baik agar masyarakat puas dengan kita," kata Pezeshkian, seperti dikutip kantor berita IRNA.
Pada Senin, pemerintah Iran telah mengumumkan bahwa posisi gubernur bank sentral kini diganti dengan mantan Menteri Ekonomi dan Keuangan Abdolnasser Hemmati. Pezeshkian kemudian menunjuk mantan gubernur bank sentral, Mohammad-Reza Farzin, sebagai ajudan ekonomi khususnya.
Ia berharap langkah tersebut bisa segera mengatasi keluhan rakyat.
(blq/rds)