Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan ruang udara di atas dan sekitar Venezuela harus dianggap "tertutup sepenuhnya".
Pernyataan mendadak itu disampaikan tanpa penjelasan tambahan dan langsung menimbulkan kecemasan serta kebingungan di Caracas, di tengah meningkatnya tekanan Washington terhadap pemerintahan Presiden Nicolas Maduro.
"Kepada seluruh maskapai, pilot, pengedar narkoba, dan pelaku perdagangan manusia, mohon anggap RUANG UDARA DI ATAS DAN SEKITAR VENEZUELA TERTUTUP SEPENUHNYA," tulis Trump dalam unggahannya di platform Truth Social, Sabtu (29/11), melansir Reuters.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah pejabat AS yang dihubungi Reuters mengaku terkejut dengan pengumuman tersebut dan menyatakan tidak mengetahui adanya operasi militer AS untuk menegakkan penutupan ruang udara Venezuela.
Pentagon tidak memberikan komentar, sementara Gedung Putih juga belum memberi penjelasan lanjutan.
Pemerintah Venezuela dalam pernyataan resminya mengecam keras langkah Trump. Mereka menyebutnya sebagai ancaman kolonialis yang bertentangan dengan hukum internasional.
"Pernyataan presiden AS itu merupakan tindakan bermusuhan, sepihak, dan sewenang-wenang yang tidak sesuai dengan prinsip hukum internasional," demikian bunyi pernyataan tersebut.
David Deptula, purnawirawan letnan jenderal yang pernah memimpin zona larangan terbang di Irak utara pada 1998-1999, mengatakan pengumuman Trump justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan.
Menurutnya, penerapan larangan terbang di Venezuela dapat membutuhkan sumber daya dan perencanaan besar, tergantung tujuan penutupan tersebut.
"Semua tergantung detailnya," ujarnya.
Pemerintahan Trump telah lama mempertimbangkan sejumlah opsi terkait Venezuela. Washington menuding Maduro terlibat dalam penyelundupan narkoba yang dianggap menewaskan warga Amerika, tuduhan yang berkali-kali dibantah Maduro.
Reuters melaporkan salah satu opsi yang dipertimbangkan AS termasuk upaya menggulingkan Maduro.
Militer AS disebut siap memasuki fase operasi baru setelah pengerahan besar-besaran di kawasan Karibia dan hampir tiga bulan serangan terhadap kapal-kapal yang dicurigai mengangkut narkoba di lepas pantai Venezuela. Trump juga telah mengizinkan operasi rahasia CIA di negara tersebut.
Maduro, yang berkuasa sejak 2013, menuduh Trump ingin menjatuhkannya dan menegaskan rakyat serta militer Venezuela akan melawan upaya apa pun.
Trump sebelumnya mengatakan kepada anggota militer AS bahwa Amerika Serikat akan segera memulai operasi darat untuk menghentikan para tersangka pengedar narkoba dari Venezuela.
Beberapa warga Caracas menyampaikan kekhawatiran mereka atas pengumuman Trump.
"Saya rasa ini tidak adil karena orang perlu bepergian untuk bekerja, berbisnis, atau menemui keluarga, dan kami warga Venezuela tidak bersalah atas situasi ini," ujar Manuel Romero, seorang asisten juru masak.
Carmen Castillo, seorang pengacara, mengatakan banyak warga bisa terisolasi dari keluarga mereka di luar negeri menjelang liburan.
"Kami seperti terkurung, di Caracas, di Venezuela. Tentu saja ini berpengaruh pada kami," katanya.
Pemerintah Venezuela menuduh AS menunjukkan ambisi kolonial di Amerika Latin dan meminta komunitas internasional menolak apa yang mereka sebut sebagai tindakan agresif yang tidak bermoral.
Iran, yang merupakan sekutu Venezuela, juga mengecam langkah Trump. Negara itu sebelumnya pernah menjadi sasaran serangan AS tahun ini.
Iran menyebut tindakan Trump sebagai "pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan ancaman bagi keselamatan penerbangan global."
Pemerintah Venezuela juga menyebut pengumuman Trump berarti penghentian sepihak penerbangan deportasi migran yang dalam beberapa bulan terakhir telah memulangkan hampir 14 ribu warga Venezuela dari AS.
Penerbangan itu sebelumnya berlangsung dua kali seminggu di tengah pengetatan kebijakan imigrasi pemerintahan Trump.
Maduro dan pejabat-pejabat seniornya, yang hampir setiap hari muncul di televisi, terus menuding AS sebagai kekuatan imperialis. Meski begitu mereka tidak menyebut nama Trump secara langsung, yang menurut sumber diplomatik dapat menjadi upaya meredakan eskalasi.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang dulu sering menjadi sasaran kecaman, kini juga jarang disebut.
Serangan AS terhadap kapal-kapal yang dicurigai mengangkut narkoba memicu peningkatan patroli keamanan di negara bagian Sucre di timur laut Venezuela. Patroli aparat dan pendukung partai berkuasa disebut membuat warga takut, menurut kesaksian empat penduduk dan seorang pengunjung.
Sinyal GPS di beberapa wilayah Venezuela juga dilaporkan terganggu dalam beberapa pekan terakhir di tengah peningkatan aktivitas militer AS.
Pernyataan Trump muncul setelah peringatan dari badan penerbangan AS (FAA) pekan lalu yang menyebut maskapai internasional menghadapi "situasi berbahaya" saat melintasi Venezuela karena kondisi keamanan yang memburuk dan meningkatnya aktivitas militer.
Menindaklanjuti hal tersebut, pemerintah Venezuela mencabut izin operasi enam maskapai internasional besar yang sebelumnya menangguhkan penerbangan ke negara itu setelah peringatan FAA.
(del/fea)