Demo Kenaikan Harga, Mata Ratusan Demonstran Buta Ditembak Shotgun

CNN Indonesia
Sabtu, 30 Agu 2025 09:06 WIB
Aksi demonstrasi menentang kenaikan harga berujung kekerasan di Chile pada 2019, hingga ratusan orang alami kebutaan.
Aksi demonstrasi berujung kekerasan di Chile pada 2019 lalu. Foto: AFP/CLAUDIO REYES
Jakarta, CNN Indonesia --

Aksi demonstrasi berujung kekerasan hingga membuat ratusan demonstran mengalami kebutaan terjadi di Chile, Amerika Selatan, pada 2019 lalu.

Pada November 2019, tembakan dari shotgun polisi Chile menyebabkan 230 orang mengalami cedera pada mata. Dari ratusan korban, sebanyak 50 orang di antaranya mengalami kebutaan permanen hingga membutuhkan mata prostetik. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini berarti bahwa para pasien tidak hanya kehilangan kemampuan melihat, tapi kehilangan mata mereka yang sebenarnya," kata Dr Patricio Meza yang merupakan Wakil Presiden Medical College of Chile.

Menurut Meza para korban yang kehilangan penglihatan rata-rata berusia 30 tahun. Dalam 80 persen kasus tersebut, kerusakan penglihatan disebabkan oleh dampak timah atau proyektil karet terhadap mata mereka.

"Kita menghadapi krisis kesehatan yang sesungguhnya, keadaan darurat medis mengingat situasi beberapa hari ini, dalam tiga pekan, kita mendapatkan jumlah kasus tertinggi melibatkan komplikasi okuler yang serius karena tembakan di mata," sebut Meza.

Unjuk rasa di negara Chile ini dipicu oleh kesenjangan ekonomi dan harga-harga. Awalnya masyarakat memprotes tarif kereta bawah tanah dan meluas menjadi gerakan yang lebih besar dengan daftar tuntutan terkait kesenjangan besar antara warga miskin dan kaya di Chile.

Demonstran menyerukan reformasi di banyak sektor mulai dari layanan kesehatan, pendidikan, dan sistem pensiun.

Sejak sebulan sebelumnya, warga Chile yang marah melihat kelakuan segelintir elite dari keluarga kaya yang hidup mewah di tengah penderitaan warga hingga kesenjangan sosial dan ekonomi.

Aksi demo ini juga membuat sekitar 700 orang ditangkap polisi dan 23 orang meninggal dunia.

Presiden Sebastian Pinera mencabut status darurat yang dideklarasikan di tengah unjuk rasa besar-besaran di sana. Namun, demonstrasi terus berlangsung.

(imf/dna/rds)
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
TERPOPULER