Pelawak Ukraina Sebut Hari Pertama Jadi Presiden Mengejutkan

CNN Indonesia | Jumat, 24/05/2019 13:21 WIB
Pelawak Ukraina Sebut Hari Pertama Jadi Presiden Mengejutkan Presiden baru Ukraina yang merupakan pesohor sekaligus pelawak, Volodymyr Zelensky, mengatakan hari pertamanya menjabat 'sedikit mengejutkan.' (Reuters/Valentyn Ogirenko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden baru Ukraina yang merupakan pesohor sekaligus pelawak, Volodymyr Zelensky, mengatakan hari pertamanya menjabat "sedikit mengejutkan."

Berbicara di sela pameran buku internasional di Kiev, Zelensky mengatakan bahwa hari pertamanya menjabat sebagai presiden cukup mengejutkannya lantaran "banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."

Pria 41 tahun itu pun berencana pindah dari istana kepresidenan yang merupakan bangunan bekas era Uni Soviet dan berlokasi di pusat kota Kiev.


"Saya tidak suka suasana dan bangunannya. Jadi kami sedang mempertimbangkan (untuk pindah) meski akan ada banyak kesulitan untuk melakukannya," kata presiden ke-6 Ukraina itu kepada AFP, Kamis (23/5).
Zelensky terus menjadi perhatian dunia setelah mengalahkan rivalnya yang merupakan petahana, Presiden Petro Poroshenko, dalam pemilihan umum pada April lalu. Pelawak itu berhasil meraih 73 persen suara, sementara Poroshenko hanya mendapat 24,4 persen dukungan.

Kemenangan Zelensky terbilang mengejutkan lantaran sejumlah pihak menganggap pencalonannya sebagian lelucon. Dia tidak memiliki pengalaman berpolitik sama sekali.

Satu hal yang Zelensky pernah lakukan dan mendekati politik adalah ketika dirinya berperan sebagai seorang presiden dalam sebuah serial televisi berjudul "Servant of the Pople."

[Gambas:Video CNN]

Kini, dia benar-benar mengambil alih kepemimpinan negara berpenduduk 45 juta jiwa itu secara nyata.

Zelensky resmi dilantik sebagai presiden pada Senin (20/5). Dalam pelantikannya, ia juga menginstruksikan pembubaran parlemen dan menyerukan gelaran pemilihan legislatif lebih cepat. Zelensky juga berjanji akan melindungi kemerdekaan dan kedaulatan Ukraina.

Ia mengatakan salah satu tugas perdananya adalah menyelesaikan konflik dengan pemberontak dan kelompok separatis di Donbass, timur Ukraina. Konflik berdarah itu setidaknya telah menelan 13 ribu jiwa sejak 2014 lalu.

Dalam dunia politik, ia menggambarkan dirinya sendiri sebagai "orang biasa yang datang untuk membuat terobosan dalam sistem." (rds/has)