Eks Presiden Peru Berniat Bunuh Diri Ketimbang Dibui

CNN Indonesia | Minggu, 21/04/2019 00:41 WIB
Eks Presiden Peru Berniat Bunuh Diri Ketimbang Dibui Ilustrasi bunuh diri. (Istockphoto/aradaphotography)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mendiang mantan Presiden Peru, Alan Garcia, meninggal karena bunuh diri saat hendak ditangkap polisi dalam kasus suap dari perusahaan konstruksi Brasil, Odebrecht. Ternyata sebelumnya dia sudah meninggalkan surat wasiat, yang isinya dia tidak mau masuk penjara gara-gara perkara itu.

"Saya sudah melihat mereka diborgol dan hidupnya menjadi sengsara, tetapi Alan Garcia tidak akan menderita karena ketidakadilan atau sirkus," demikian isi surat wasiat Alan yang dibacakan anak perempuannya, Luciana, dalam pemakaman, seperti dilansir AFP, Sabtu (20/4).


Alan meninggal di rumah sakit usai menembak dirinya ketika hendak ditangkap oleh polisi, terkait kasus suap dan pencucian uang yang dituduhkan kepadanya, pada Rabu (17/4) lalu. Dia tutup usia pada umur 69 tahun.


Alan merupakan satu dari beberapa mantan presiden Peru yang terlibat skandal korupsi. Dia menjabat dalam dua periode, yakni 1985 sampai 1990 dan 2006 sampai 2011.

"Tidak ada rekening rahasia, atau suap, atau harta haram. Sejarah lebih penting dari kekayaan," lanjut isi surat wasiat Garcia.

"Saya sudah menyelesaikan tugas politik dan proyek untuk masyarakat, yang tidak dilakukan pemerintahan lain. Saya tidak ingin dipermalukan," demikian tulis Garcia.

[Gambas:Video CNN]

"Saya melakukan itu demi harga diri anak-anak saya, sebagai simbol harga diri bagi teman-teman saya, dan sebagai lambang bagi musuh-musuh saya karena sudah menyelesaikan tugas," tulis Garcia.

Garcia diduga menerima suap dari Odebrecht dalam jumlah besar. Sebagai gantinya, perusahaan itu mendapat proyek-proyek pemerintah.

Kejaksaan menjerat Garcia dan 21 pejabat lain bersekongkol untuk meloloskan perusahaan asal Belanda, ATM Terminals, untuk mendapatkan kontrak konsesi operasional terminal peti kemas di Pelabuhan Callao.


Tahun lalu Garcia sempat kabur ke Kedutaan Besar Uruguay selama 16 hari untuk meminta suaka. Namun, upayanya gagal.

Pada Rabu lalu, polisi hendak menjemput paksa karena dia tidak menghadiri panggilan pemeriksaan. Dia lantas menembak kepalanya.


Masalah kesehatan mental jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu, misalnya saja Komunitas Save Yourselves https://www.instagram.com/saveyourselves.id, Yayasan Sehat Mental Indonesia melalui akun Line @konseling.online, atau Tim Pijar Psikologi https://pijarpsikologi.org/konsulgratis. (ayp/ayp)