Rusia Tuduh AS Rencanakan Kudeta di Venezuela

CNN Indonesia | Selasa, 26/03/2019 11:40 WIB
Rusia Tuduh AS Rencanakan Kudeta di Venezuela Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menuduh Amerika Serikat merencanakan 'kudeta' untuk menggulingkan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. (Reuters/Sergio Perez)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menuduh Amerika Serikat merencanakan "kudeta" untuk menggulingkan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Melalui pernyataan, Lavrov mengatakan dia telah mengutarakan keluhan "terkait upaya Washington untuk mengorganisir kudeta di Venezuela" dalam percakapannya di telepon bersama Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo.

"Langkah-langkah seperti itu merupakan pelanggaran terhadap piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan campur tangan terselubung dalam urusan internal negara berdaulat," ucap Lavrov dalam pernyataannya pada Selasa (26/3).


Pernyataan Lavrov itu datang sehari setelah Rusia, yang merupakan pendukung Maduro, dilaporkan menurunkan sedikitnya 100 personel militernya ke Venezuela, termasuk Vasily Tonkoshkurov, Kepala Staf Pasukan Lapangan.
Rusia juga mengerahkan 35 ton material pertahanan menggunakan pesawat kargo Antonov AN-124 ke Caracas. Pengerahan ini disebut menunjukkan penguatan relasi antara Rusia dan Venezuela.

Lavrov tak mengomentari kabar itu dalam pernyataannya. Namun, Pompeo telah lebih dulu memperingatkan Rusia bahwa AS tidak akan "diam saja" melihat Rusia menempatkan personel militer ke Venezuela untuk mendukung Maduro.

Dilansir AFP, Pompeo menganggap bantuan militer Rusia di Venezuela hanya akan memperpanjang krisis politik di negara Amerika Latin itu.

[Gambas:Video CNN]

Krisis Venezuela terus memburuk terutama setelah pemimpin oposisi Maduro, Juan Guaido, mendeklarasikan diri sebagai presiden interim pada Januari lalu. Deklarasi itu dilakukan Guaido selaku Ketua Majelis Nasional Venezuela, sebagai bentuk penentangan terhadap kepemimpinan Maduro.

Langkah Guaido itu langsung didukung sedikitnya 50 negara, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa. 

Meski begitu, Maduro berkeras ingin mempertahankan jabatannya sebagai presiden dengan bantuan dukungan dari para loyalis militernya dan sejumlah sekutu, seperti Rusia dan China. (rds/has)