Suriah Sebut Pengakuan Atas Golan akan Buat Arab Musuhi AS

CNN Indonesia | Selasa, 26/03/2019 03:34 WIB
Suriah Sebut Pengakuan Atas Golan akan Buat Arab Musuhi AS Ilustrasi. (REUTERS/Nir Elias)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Suriah menyatakan pengakuan yang diberikan Washington terhadap klaim Israel atas Dataran Tinggi Golan menunjukkan Amerika Serikat (AS) telah melakukan serangan terang-terangan pada kedaulatan mereka sebagai sebuah bangsa.

Presiden AS Donald Trump pada Senin (25/3) menandatangani proklamasi berisi pengakuan negaranya atas kedaulatan Israel di Dataran Tinggi Golan. Dataran tersebut sebagai pengingat, merupakan daerah yang disengketakan Suriah dan Israel sejak 1967 silam.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut pengakuan itu "bersejarah" bagi negaranya. Ia mengatakan Dataran Tinggi Golan yang masih diklaim oleh Suriah, akan tetap secara permanen di bawah kendali Israel.


Langkah itu tersebut menuai kritik dari pemerintah Suriah. "Dalam serangan terang-terangan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Suriah, presiden AS telah mengakui aneksasi Golan Suriah," kata sumber kementerian luar negeri seperti dikutip dari AFP, Selasa (26/3).


"Trump tidak memiliki hak dan otoritas hukum untuk melegitimasi pendudukan Israel atas Golan," katanya.

Sumber yang tidak disebutkan namanya itu juga mengatakan dukungan tak terbatas yang diberikan Amerika Serikat kepada Israel menjadikan Washington musuh utama orang Arab.

Menteri Luar Negeri Suriah Walid Muallem juga mengecam langkah itu dengan mengatakan kepada Syria TV bahwa langkah Trump atas Golan akan mengisolasi AS. Ketua oposisi Suriah Nasr al-Hariri mengatakan keputusan Trump akan memiliki implikasi negatif pada wilayah tersebut.

"Ini akan mengarah pada lebih banyak kekerasan dan ketidakstabilan dan itu akan memiliki efek negatif pada upaya untuk merekayasa perdamaian di kawasan," katanya di Twitter.

Peringatan sama juga diberikan Rusia. Senin kemarin mereka menyatakan pengakuan AS atas Golan bisa memicu munculnya "gelombang baru" ketegangan di Timur Tengah.
(afp/agt)