Partai Anti Junta Thailand Klaim Kuasai Parlemen

CNN Indonesia | Senin, 25/03/2019 17:17 WIB
Partai Anti Junta Thailand Klaim Kuasai Parlemen Ilustrasi pemilihan umum Thailand 2019. (REUTERS/Athit Perawongmetha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemilihan umum di Thailand semakin memanas setelah partai pro junta militer, Palang Pracharat, disebut unggul sementara dalam hitung cepat. Namun, partai oposisi Pheu Thai mengklaim mereka berhasil menduduki mayoritas di majelis tinggi parlemen, dan bersiap membentuk pemerintahan dan koalisi yang sejalan dengan mereka.

Seperti dilansir Associated Press, Senin (25/3), Komisi Pemilihan Umum Thailand hingga saat ini belum menyatakan hasil penghitungan suara. Menurut mereka, hasil pemungutan suara keseluruhan akan disampaikan pada Jumat (29/3) mendatang.

KPU Thailand menyatakan hari ini hanya akan mengumumkan hasil pemungutan suara untuk 350 anggota majelis tinggi. Sedangkan untuk 150 posisi majelis rendah bakal menyusul.


Pemilihan umum kali ini menjadi persaingan sengit antara faksi pro junta militer dan oposisi.
Partai Pheu Thai yang merupakan pendukung kakak beradik mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra dan Yingluck Shinawatra masih mempunyai basis pendukung yang kuat di daerah pedesaan.

Dari 94 persen suara yang terhitung hingga Minggu (24/3) malam, Partai Palang Pracharat menempati posisi teratas dengan perolehan suara 7,69 juta. Sedangkan Pheu Thai, meraih 7,23 juta suara.

Berdasarkan prediksi Reuters, Partai Pheu Thai akan mendapatkan setidaknya 129 dari 350 kursi di dewan perwakilan. Sementara itu, Partai Palang Pracaharat diprediksi hanya meraup 102 kursi.

Selain itu, peserta pemilu juga memperebutkan 150 kursi di majelis rendah senat Thailand. Dengan demikian, secara keseluruhan ada 500 kursi yang diperebutkan.
Peserta pemilihan umum Thailand kali ini adalah 51,4 juta orang, dengan 92 ribu tempat pemungutan suara. Partai Pheu Thai kemungkinan besar bakal berkoalisi dengan Partai Kemajuan Masa Depan (FWP) yang dipimpin oleh pengusaha Thanathorn Juangroongruangkit.

Sedangkan partai yang menjadi incaran kedua belah pihak adalah Bhumjaithai. Perolehan suara partai dengan agenda legalisasi ganja dan berbagi kendaraan itu dianggap sangat penting untuk menentukan kemenangan masing-masing pihak.

"Kami belum berpihak kepada siapapun sampai hasil pemilu diketahui," kata Ketua Partai Bhumjaithai, Anuthin Charnweerakul.

Demokrat Kecewa

Partai Demokrat Thailand harus gigit jari dalam pemilihan umum kali ini. Target mereka untuk merebut seratus kursi di majelis tinggi gagal terlaksana.
Hal ini membuat mantan perdana menteri sekaligus Ketua Partai Demokrat Thailand, Abhisit Vejjajiva, memilih mengundurkan diri.

"Meski penghitungan belum selesai, sudah jelas hasilnua tidak seperti yang saya harapkan. Upaya saya bekerja untuk rakyat dan partai tidak hilang tetapi saya harus menaati janji," kata Abhisit. (ayp/ayp)